Latest Post
Tampilkan postingan dengan label SEPUTAR MANAJEMEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEPUTAR MANAJEMEN. Tampilkan semua postingan
9/30/2014
Written By Unknown on 30/09/14 | 9/30/2014
Lima Jurus Jadi Jutawan
Kalau kita flash back ke 20 tahun ke belakang. Banyak kisah OKB instan setiap minggunya. Hanya bermodalkan uang pulahan hingga ratusan ribu rupiah, orang dengan mudah mendapatkan jutaan rupiah.
Namun banyak orang yang pada akhirnya meninggalkan cara berpikir dengan nalar dan logikanya. Itulah sekelumit kisah jutawan instan pada masa Porkas ataupun SDSB. Sebuah program sumbangan berhadiah yang dibentuk pemerintah kala itu.
Orang banyak berburu untuk beroleh kekayaan yang cepat, serba instan. Orang lebih memilih nafsu dibanding logika.
Namun tetaplah yang instan itu tidak baik, dan yang instan dapat dengan mudah pudar. Menjadi jutawan adalah hak setiap orang. Tetapi tentunya caranya yang harus dilalui dengan benar, dan melalui sebuah proases yang yang benar pula.
Menjadi jutawan bukan saja hanya sebatas mimpi. Tetapi hal tersebut dapat saja dicapai oleh seseorang baik perempuan dan laki-laki dengan sejumlah langkah yang cukup melelahkan..
Menjadi jutawan dapat kita peroleh dengan kerja keras, mendidik diri sendiri untuk disiplin, dan membangun sesuatu menjadi berharga. Ingin jadi seorang jutawan? Berikut tips yang dikutip dari Daily Finance:
1. Berinvestasi
Ketika Anda menerima rezeki nomplok tak terduga seperti warisan, hadiah uang tunai, dan bonus, jangan menghabiskannya. Sebaiknya berinvestasi, dan jangan menghabiskan uang untuk berbelanja.
Anda dapat menahan diri dari berbelanja barang yang nilainya dapat turun. Sebaiknya bisa berinvestasi di pasar modal dengan membeli saham. Akan tetapi pilih saham dari perusahaan yang memiliki track record yang baik. Selain itu, sebaiknya dana tersebut tidak hanya digunakan dalam satu keranjang investasi tetapi juga melakukan diversifikasi termasuk juga ketika membeli saham perusahaan.
2. Hidup Hemat
Pepatah untuk hidup hemat memang sering didengar. Sebaiknya Anda melakukan nasihat itu karena apabila dilaksanakan, Anda mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Namun sebaliknya, Anda tidak dapat membangun kekayaan apabila Anda menghabiskan uang lebih dari pada yang disimpan.
3. Terus berinvestasi sedikit demi sedikit
Anda jangan pernah menaikkan gaya hidup meskipun mendapatkan kenaikan gaji dan promosi, dengan begitu Anda dapat memiliki lebih banyak uang untuk berinvestasi. Salah satu rahasia untuk berinvestasi di pasar modal adalah memulai berinvestasi dengan jumlah dana kecil secara berkala.
Anda dapat melakukan investasi di reksa dana. Selain itu, Anda dapat juga memanfaatkan membeli saham ketika harga saham sedang murah, dan menjualnya ketika harga saham sudah lebih tinggi.
4. Menyiapkan dana pensiun
Untuk menyiapkan dana di hari tua, Anda dapat mengikuti program dana pensiun. Anda dapat menyisihkan dana pensiun dari penghasilan setiap bulan.
5. Fokus meninjau investasi
Untuk memperhatikan investasi dan dana yang dikelola, Anda dapat menyewa penasihat keuangan dan bahkan mengelola keuangan sendiri. Bila Anda memilih yang terakhir maka harus menghabiskan waktu untuk mendidik sendiri dan meninjau portofolio investasi secara teratur. Langkah ini dilakukan untuk mendapatkan keuntungan maksimal dan mengurangi risiko. Sudah siapkah Anda untuk jadi jutawan? (Arh)
Kalau kita flash back ke 20 tahun ke belakang. Banyak kisah OKB instan setiap minggunya. Hanya bermodalkan uang pulahan hingga ratusan ribu rupiah, orang dengan mudah mendapatkan jutaan rupiah.
Namun banyak orang yang pada akhirnya meninggalkan cara berpikir dengan nalar dan logikanya. Itulah sekelumit kisah jutawan instan pada masa Porkas ataupun SDSB. Sebuah program sumbangan berhadiah yang dibentuk pemerintah kala itu.
Orang banyak berburu untuk beroleh kekayaan yang cepat, serba instan. Orang lebih memilih nafsu dibanding logika.
Namun tetaplah yang instan itu tidak baik, dan yang instan dapat dengan mudah pudar. Menjadi jutawan adalah hak setiap orang. Tetapi tentunya caranya yang harus dilalui dengan benar, dan melalui sebuah proases yang yang benar pula.
Menjadi jutawan bukan saja hanya sebatas mimpi. Tetapi hal tersebut dapat saja dicapai oleh seseorang baik perempuan dan laki-laki dengan sejumlah langkah yang cukup melelahkan..
Menjadi jutawan dapat kita peroleh dengan kerja keras, mendidik diri sendiri untuk disiplin, dan membangun sesuatu menjadi berharga. Ingin jadi seorang jutawan? Berikut tips yang dikutip dari Daily Finance:
1. Berinvestasi
Ketika Anda menerima rezeki nomplok tak terduga seperti warisan, hadiah uang tunai, dan bonus, jangan menghabiskannya. Sebaiknya berinvestasi, dan jangan menghabiskan uang untuk berbelanja.
Anda dapat menahan diri dari berbelanja barang yang nilainya dapat turun. Sebaiknya bisa berinvestasi di pasar modal dengan membeli saham. Akan tetapi pilih saham dari perusahaan yang memiliki track record yang baik. Selain itu, sebaiknya dana tersebut tidak hanya digunakan dalam satu keranjang investasi tetapi juga melakukan diversifikasi termasuk juga ketika membeli saham perusahaan.
2. Hidup Hemat
Pepatah untuk hidup hemat memang sering didengar. Sebaiknya Anda melakukan nasihat itu karena apabila dilaksanakan, Anda mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Namun sebaliknya, Anda tidak dapat membangun kekayaan apabila Anda menghabiskan uang lebih dari pada yang disimpan.
3. Terus berinvestasi sedikit demi sedikit
Anda jangan pernah menaikkan gaya hidup meskipun mendapatkan kenaikan gaji dan promosi, dengan begitu Anda dapat memiliki lebih banyak uang untuk berinvestasi. Salah satu rahasia untuk berinvestasi di pasar modal adalah memulai berinvestasi dengan jumlah dana kecil secara berkala.
Anda dapat melakukan investasi di reksa dana. Selain itu, Anda dapat juga memanfaatkan membeli saham ketika harga saham sedang murah, dan menjualnya ketika harga saham sudah lebih tinggi.
4. Menyiapkan dana pensiun
Untuk menyiapkan dana di hari tua, Anda dapat mengikuti program dana pensiun. Anda dapat menyisihkan dana pensiun dari penghasilan setiap bulan.
5. Fokus meninjau investasi
Untuk memperhatikan investasi dan dana yang dikelola, Anda dapat menyewa penasihat keuangan dan bahkan mengelola keuangan sendiri. Bila Anda memilih yang terakhir maka harus menghabiskan waktu untuk mendidik sendiri dan meninjau portofolio investasi secara teratur. Langkah ini dilakukan untuk mendapatkan keuntungan maksimal dan mengurangi risiko. Sudah siapkah Anda untuk jadi jutawan? (Arh)
Label:
SEPUTAR MANAJEMEN
9/27/2014
Hal Yang Merusak Karir
Written By Unknown on 27/09/14 | 9/27/2014
Kinerja dan reputasi di tempat kerja merupakan hal yang penting. Jika
tak pandai mengelolanya, beberapa kesalahan bisa langsung dapat merusak
karir bekerja bahkan hal paling buruk bisa membuat kita dipecat.
Tahukah kita Kebanyakan dari, hal itu merupakan akumulasi dari kesalahan kecil yang secara bertahap membuat karyawan semakin menjauh dari karir mereka. Singkatnya, kebiasaan buruk, bisa menyakiti reputasi, baik Anda menyadarinya atau tidak.
Berikut adalah 10 perilaku buruk yang pelan-pelan bisa mengikis kredibilitas dan karir melansir laman Business Insider, Jumat (6/6/2014)
1. Tidak mau beradaptasi dengan budaya perusahaan
Setiap tempat kerja memiliki kebiasaan sosial sendiri. Tidak berusaha mengikuti budaya tersebut dapat membuat Anda susah.
Sikap itu bisa membuat Anda mengasingkan diri dari rekan kerja dan membuatnya tampak seperti Anda tidak peduli tentang membentuk hubungan positif di kantor.
2. Banyak membuat alasan
Tidak mengambil tanggung jawab atas kesalahan dan kegagalan akan membuat karir Anda kian tertinggal.
3. Bekerja apa adanya
Meski Anda selalu memenuhi tenggat waktu dan konsisten menyerahkan pekerjaan, namun jika pekerjaan tersebut hanya dilakukan minimal akan menjadi kesulitan bagi Anda.
4. Berpenampilan berantakan
Kondisi diri pribadi juga bisa menjadi tolak ukur seseorang. Berpenampilan berantakan akan menurunkan kredibilitas Anda karena itu membuat tampak seperti Anda tidak peduli.
5. Bersikap pesimis
Jika Anda terbiasa besikap pesimis, hal ini akan menjadi gangguan bagi atasan dan dapat mengikutsertakan tim Anda.
Terus-menerus merengek dan mengeluh tidak akan membuat Anda menjadi orang menyenangkan di kantor.
6. Mengabaikan rekan kerja
Membentuk persahabatan dengan rekan-rekan Anda adalah sama pentingnya dengan memelihara hubungan dengan petinggi.
Upayakan untuk dikenal dan disukai, sehingga rekan kerja ingin berbagi informasi berharga dengan Anda dan membantu Anda ketika Anda membutuhkannya.
7. Defensif
Bos Anda tidak mengharapkan Anda untuk menjadi sempurna, tapi sikap defensif ketika menerima umpan balik negatif membuat Anda terlihat tidak profesional.
Jika Anda tidak mau mendengarkan kritik konstruktif, ia memberitahu atasan bahwa Anda tidak mungkin untuk mendorong diri sendiri untuk memperbaiki.
8. Menunda-nunda pekerjaan
Menunda proyek sampai menit terakhir tidak hanya memberi tekanan pada Anda, itu menghambat kemajuan setiap orang lain mengandalkan Anda bagian dari pekerjaan. Jika ada yang salah, Anda mungkin akan menjadi yang pertama disalahkan.
9. Selalu terlambat
Sering keterlambatan menandakan untuk rekan kerja bahwa sesuatu yang lain yang lebih penting untuk Anda dan bahwa Anda tidak menghargai waktu mereka. Ini melukiskan Anda tidak menghormati dan tidak peduli, membuat orang waspada mempercayai Anda. Tidak peduli apa yang diperlukan, selalu menemukan cara untuk menjadi tepat waktu.
10. Banyak Bicara
Memang bagus untuk mengenal rekan kerja Anda, tetapi jika terus-menerus bersosialisasi, itu mencegah orang di sekitar Anda bisa menyelesaikan pekerjaan mereka. (Abya)
Tahukah kita Kebanyakan dari, hal itu merupakan akumulasi dari kesalahan kecil yang secara bertahap membuat karyawan semakin menjauh dari karir mereka. Singkatnya, kebiasaan buruk, bisa menyakiti reputasi, baik Anda menyadarinya atau tidak.
Berikut adalah 10 perilaku buruk yang pelan-pelan bisa mengikis kredibilitas dan karir melansir laman Business Insider, Jumat (6/6/2014)
1. Tidak mau beradaptasi dengan budaya perusahaan
Setiap tempat kerja memiliki kebiasaan sosial sendiri. Tidak berusaha mengikuti budaya tersebut dapat membuat Anda susah.
Sikap itu bisa membuat Anda mengasingkan diri dari rekan kerja dan membuatnya tampak seperti Anda tidak peduli tentang membentuk hubungan positif di kantor.
2. Banyak membuat alasan
Tidak mengambil tanggung jawab atas kesalahan dan kegagalan akan membuat karir Anda kian tertinggal.
3. Bekerja apa adanya
Meski Anda selalu memenuhi tenggat waktu dan konsisten menyerahkan pekerjaan, namun jika pekerjaan tersebut hanya dilakukan minimal akan menjadi kesulitan bagi Anda.
4. Berpenampilan berantakan
Kondisi diri pribadi juga bisa menjadi tolak ukur seseorang. Berpenampilan berantakan akan menurunkan kredibilitas Anda karena itu membuat tampak seperti Anda tidak peduli.
5. Bersikap pesimis
Jika Anda terbiasa besikap pesimis, hal ini akan menjadi gangguan bagi atasan dan dapat mengikutsertakan tim Anda.
Terus-menerus merengek dan mengeluh tidak akan membuat Anda menjadi orang menyenangkan di kantor.
6. Mengabaikan rekan kerja
Membentuk persahabatan dengan rekan-rekan Anda adalah sama pentingnya dengan memelihara hubungan dengan petinggi.
Upayakan untuk dikenal dan disukai, sehingga rekan kerja ingin berbagi informasi berharga dengan Anda dan membantu Anda ketika Anda membutuhkannya.
7. Defensif
Bos Anda tidak mengharapkan Anda untuk menjadi sempurna, tapi sikap defensif ketika menerima umpan balik negatif membuat Anda terlihat tidak profesional.
Jika Anda tidak mau mendengarkan kritik konstruktif, ia memberitahu atasan bahwa Anda tidak mungkin untuk mendorong diri sendiri untuk memperbaiki.
8. Menunda-nunda pekerjaan
Menunda proyek sampai menit terakhir tidak hanya memberi tekanan pada Anda, itu menghambat kemajuan setiap orang lain mengandalkan Anda bagian dari pekerjaan. Jika ada yang salah, Anda mungkin akan menjadi yang pertama disalahkan.
9. Selalu terlambat
Sering keterlambatan menandakan untuk rekan kerja bahwa sesuatu yang lain yang lebih penting untuk Anda dan bahwa Anda tidak menghargai waktu mereka. Ini melukiskan Anda tidak menghormati dan tidak peduli, membuat orang waspada mempercayai Anda. Tidak peduli apa yang diperlukan, selalu menemukan cara untuk menjadi tepat waktu.
10. Banyak Bicara
Memang bagus untuk mengenal rekan kerja Anda, tetapi jika terus-menerus bersosialisasi, itu mencegah orang di sekitar Anda bisa menyelesaikan pekerjaan mereka. (Abya)
Label:
SEPUTAR MANAJEMEN
9/27/2014
Kebiasaan yang Membuat Anda Mudah Gagal
Gagal adalah kata yang banyak dihindarkan orang, gagal dapat membuat
orang bangkit namun dapat pula melemahkan semangat untuk bangkit.
Kegagalan seringkali menjadi mimpi buruk bagi orang-orang yang tengah
mengejar kesuksesan baik di bidang karir maupun bisnis. Ironisnya,
kegagalan justru bisa datang karena sikap buruk dari diri sendiri.
Mengutip laman Lifehack.org, pegawai atau pengusaha yang terlalu sibuk mengurus urusan orang lain tidak akan pernah bisa melangkah jauh mencapai kesuksesannya. Tak hanya itu, membuang energi untuk membenci orang lain juga dapat menjadi salah satu faktor pemicu kegagalan menuju sukses.
Berdasarkan sejumlah penelitian, para pegawai atau pebisnis yang selalu menganggap dirinya lebih baik dari orang lain justru akan lebih mudah tersandung dan jatuh. Selain itu, bersikap selalu ingin tahu juga merupakan kebiasaan buruk yang dapat menjadi bumerang dan berdampak negatif bagi diri sendiri.
Lebih dari itu, tidak mau menerima kritik orang lain juga merupakan salah satu indikasi bahwa kita akan segera menghadapi kegagalan. Namun sebaliknya, menjaga sikap dan senantiasa menyebarkan hal positif bagi rekan kerja atau bisnis dapat mempercepat langkah mencapai kesuksesan yang dikendaki.
Meski demikian, banyak orang yang tidak menyadari sikap dan kebiasannya dapat menjadi sumber kegagalan dalam berkarir maupun berbisnis. Berikut beberapa kebiasaan yang dapat membuat kta lebih mudah gagal:
1. Menyalahkan orang lain untuk kegagalan pribadi
2. Senang mengkritik orang lain
3. Takut untuk berubah dan mencoba hal baru.
4. Merasa memiliki kekuasaan lebih besar dari orang lain
5. Mengumbar kemarahan di depan orang lain.
6. Gemar menyimpan dendam pada orang lain. (abya/arh)
Mengutip laman Lifehack.org, pegawai atau pengusaha yang terlalu sibuk mengurus urusan orang lain tidak akan pernah bisa melangkah jauh mencapai kesuksesannya. Tak hanya itu, membuang energi untuk membenci orang lain juga dapat menjadi salah satu faktor pemicu kegagalan menuju sukses.
Berdasarkan sejumlah penelitian, para pegawai atau pebisnis yang selalu menganggap dirinya lebih baik dari orang lain justru akan lebih mudah tersandung dan jatuh. Selain itu, bersikap selalu ingin tahu juga merupakan kebiasaan buruk yang dapat menjadi bumerang dan berdampak negatif bagi diri sendiri.
Lebih dari itu, tidak mau menerima kritik orang lain juga merupakan salah satu indikasi bahwa kita akan segera menghadapi kegagalan. Namun sebaliknya, menjaga sikap dan senantiasa menyebarkan hal positif bagi rekan kerja atau bisnis dapat mempercepat langkah mencapai kesuksesan yang dikendaki.
Meski demikian, banyak orang yang tidak menyadari sikap dan kebiasannya dapat menjadi sumber kegagalan dalam berkarir maupun berbisnis. Berikut beberapa kebiasaan yang dapat membuat kta lebih mudah gagal:
1. Menyalahkan orang lain untuk kegagalan pribadi
2. Senang mengkritik orang lain
3. Takut untuk berubah dan mencoba hal baru.
4. Merasa memiliki kekuasaan lebih besar dari orang lain
5. Mengumbar kemarahan di depan orang lain.
6. Gemar menyimpan dendam pada orang lain. (abya/arh)
Label:
SEPUTAR MANAJEMEN
9/27/2014
Gaya Hidup Yang Tentukan Kesuksesan
Tangga menuju kesuksesan itu tidaklah semudah yang dibayangkan namun
juga tak sesulit yang pikirkan. Namun, jalan menuju kesuksesan itu akan
terpenuhi dengan berbagai ragam kesulitan. Kesulitan demi kesulitan yang
diperhadapkan, semua itu adalah sebagai tahap pendewasaan dan juga
penguatan mental kita.
Tetapi disaat kesuksesan mulai hinggap justru masalahnya kebanyakan berasal dari diri sendiri. Seringkali perasaan jenuh muncul, ditambah dengan rasa kewalahan dengan semua rutinitas yang dijalani.
Seperti dikutip dari Lifehack.org, seringkali Anda juga mengabaikan pola makan teratur yang dapat berbahaya bagi kesehatan. Tak hanya bagi kesehatan, itu juga dapat berdampak negatif pada bisnis dan karir di kantor. Gaya hidup ternyata merupakan salah satu indikator paling kuat dalam menentukan kesuksesan di masa depan.
Berikut lima gaya hidup yang mempengaruhi kesuksesan Anda dalam berkarir maupun berbisnis:
1. Cara membayangkan jalan menuju kesuksean
Masa depan bagaikan satu tempat yang belum pernah terjamah. Artinya keinginan untuk sukses harus disertai dengan pembuatan peta perjalanan hidup menuju ke arah sana.
Orang-orang sukses memiliki visi yang jelas dari kesuksesan yang diinginkannya, mulai dari jenis bisnis seperti apa yang ingin dijalankan, karir seperti apa yang akan diarungi hingga hal sederhana seperti tempat berlibur.
2. Cara makan dan tidur
No Action No Success, sukses tidak terjadi hanya dengan diam tanpa melakukan apapun. Tetapi jika Anda tidak tidur dan makan yang cukup, justru akan kehabisan energi untuk mengejar mimpi-mimpi pribadi. Orang sukses akan senantiasa memperhatikan setiap aspek dalam kehidupannya termasuk nutrisi, hubungan pribadi, olahraga, makan dan tidur.
3. Cara bergaul
Pergaulan memperlihatkan bagaimana cara berperilaku dalam mempengaruhi sikap orang lain. Gaya pergaulan dan seluruh sikap Anda akan menentukan bagaimana kesuksesan itu akan tercipta di masa depan.
4. Cara berpikir
Dunia karir atau bisnis akan membalas dengan keberhasilan, dari sijao keseriusan dan keteguhan Anda dalam menjalaninya. Jika Anda bersikap serius dan konsisten dalam menjalani hidup, maka kesuksean akan senantiasa datang menghampiri Anda.
5. Cara Anda menikmati kehidupan yang dijalani
Kesukesan adalah bukan seberapa banyak yang bisa dicapai tapi seberapa baik Anda bisa menikmatinya. Jika Anda memiliki karir yang baik dan pendapatan yang cukup tapi tidak bisa menikmatinya, itu berarti Anda masih belum sukses.
Kesuksesan selalu diikuti kebahagiaan, jika Anda tida bisa merasakannya, mungkin Anda masih dalam proses menuju ke sana. (abya)
Tetapi disaat kesuksesan mulai hinggap justru masalahnya kebanyakan berasal dari diri sendiri. Seringkali perasaan jenuh muncul, ditambah dengan rasa kewalahan dengan semua rutinitas yang dijalani.
Seperti dikutip dari Lifehack.org, seringkali Anda juga mengabaikan pola makan teratur yang dapat berbahaya bagi kesehatan. Tak hanya bagi kesehatan, itu juga dapat berdampak negatif pada bisnis dan karir di kantor. Gaya hidup ternyata merupakan salah satu indikator paling kuat dalam menentukan kesuksesan di masa depan.
Berikut lima gaya hidup yang mempengaruhi kesuksesan Anda dalam berkarir maupun berbisnis:
1. Cara membayangkan jalan menuju kesuksean
Masa depan bagaikan satu tempat yang belum pernah terjamah. Artinya keinginan untuk sukses harus disertai dengan pembuatan peta perjalanan hidup menuju ke arah sana.
Orang-orang sukses memiliki visi yang jelas dari kesuksesan yang diinginkannya, mulai dari jenis bisnis seperti apa yang ingin dijalankan, karir seperti apa yang akan diarungi hingga hal sederhana seperti tempat berlibur.
2. Cara makan dan tidur
No Action No Success, sukses tidak terjadi hanya dengan diam tanpa melakukan apapun. Tetapi jika Anda tidak tidur dan makan yang cukup, justru akan kehabisan energi untuk mengejar mimpi-mimpi pribadi. Orang sukses akan senantiasa memperhatikan setiap aspek dalam kehidupannya termasuk nutrisi, hubungan pribadi, olahraga, makan dan tidur.
3. Cara bergaul
Pergaulan memperlihatkan bagaimana cara berperilaku dalam mempengaruhi sikap orang lain. Gaya pergaulan dan seluruh sikap Anda akan menentukan bagaimana kesuksesan itu akan tercipta di masa depan.
4. Cara berpikir
Dunia karir atau bisnis akan membalas dengan keberhasilan, dari sijao keseriusan dan keteguhan Anda dalam menjalaninya. Jika Anda bersikap serius dan konsisten dalam menjalani hidup, maka kesuksean akan senantiasa datang menghampiri Anda.
5. Cara Anda menikmati kehidupan yang dijalani
Kesukesan adalah bukan seberapa banyak yang bisa dicapai tapi seberapa baik Anda bisa menikmatinya. Jika Anda memiliki karir yang baik dan pendapatan yang cukup tapi tidak bisa menikmatinya, itu berarti Anda masih belum sukses.
Kesuksesan selalu diikuti kebahagiaan, jika Anda tida bisa merasakannya, mungkin Anda masih dalam proses menuju ke sana. (abya)
Label:
SEPUTAR MANAJEMEN
9/27/2014
Bebas Libur Kapan Saja
Setelah membaca salah satu artikel di laman businessinsoder.com.au,
hati ini jadi tergelitik dan teringat akan perbincangan dengan salah
seorang sahabat. Dimana ia memiliki harapan bila usahanya bertumbuh
ingin membuat suatu kebijakan mengenai jam kerja bagi karyawannya.
Dimana ia akan membuat satu kebijakan untuk membebaskan jam kerja dan
masa libur bagi karyawannya. Alasannya, agar karyawan memiliki rasa
kebahagiaan dalam setiap melaksanakan pekerjaannya. Yang terpenting
mereka mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan mereka. "Coba bayangkan
bro, karyawan dituntut datang tepat waktu tapi kondisi dilapangan,
bujubune semrawut dan kemacetan terjadi dimana-mana. Kalau mengawali
suatu aktivitas dengan suasana stress, bagaimana menghasilkan output
yang baik?". Saya katakan, itu sebuah ide yang cerdas dimana
meningkatkan produktivitas dengan mengobati mental dalam diri karyawan.
Ternyata ide dan harapan sahabatnya, benar-benar terjadi di negeri Australia, dilansir dari businessinsoder.com.au Karyawan di Australia saat ini bisa bebas menentukan cara kerjanya. Kebebasan ini meliputi waktu kerja, hari libur, hingga di mana dia ingin mengerjakan pekerjaannya.
Apa alasan para pemilik perusahaan di Australia percaya dengan memberikan kebebasan pada pekerja, mereka akan mendapat peningkatan kreativitas, produktivitas, dan pekerja yang bahagia.
Salah satu orang yang menerapkan kebijakan ini Richard Branson, bos dari perusahaan maskapai penerbangan Vigin Airlines, mengaku ide ini datang dari putrinya.
Richard menuturkan, bahwa ia begitu terkesan setelah putrinya mengirimi dirinya sebuah surel mengenai pemberian kebebasan bekerja pada karyawan. Sang putri mengaku ide ini muncul usai membaca artikel tentang kebijakan libur Netflix. Dari situlah Branson ingin mengubah pakem aturan kerja perusahaanya.
"Pekerja bebas menentukan apakah dia ingin mengambil libur beberapa jam, hari, minggu, atau bulan," ujarnya.
Aturan baru ini, lanjutnya, juga membebaskan pekerja harus meminta izin untuk mengambil libur. "Para pekerja dibebaskan libur asalkan tidak mengganggu target penyelesaian proyek atau pekerjaan," tuturnya.
Sistem kerja ini, tambahnya, didasarkan karena saat ini teknologi telah membuat pekerjaan tak ada habisnya dan pekerja hampir tidak memiliki waktu istirahat.
Kebijakan tersebut telah diterapkan olehnya, pada kantor Virgin Airlines cabang Amerika Serikat dan Inggris. Jika cara ini efektif, bukan tidak mungkin akan diperluas ke seluruh kantor cabang perusahaan.
"Ini merupakan inisiatif yang sangat sederhana dan cerdas yang pernah saya dengar. Ini sangat menarik untuk ditunggu hasilnya," jelas Branson.
Seperti diketahui, Richard Branson adalah pengusaha asal Inggris yang sudah memulai usahanya sejak usia 16 tahun. Awalnya Richard mendirikan toko layanan pesan-antar kaset yang di kemudian hari menjadi perusahaan rekaman dan toko musik Virgin Records.
Perusahaan Branson saat ini telah berkembang mencapai sekitar 200 perusahaan yang tersebar di 30 negara. Kekayaannya saat ini ditaksir mencapai USD 5 miliar atau sekitar Rp 50 triliun.
Bagaimana dengan Indonesia? Tentunya bakal menjadi hal yang menarik bukan? Mungkinkah hal seperti itu dapat diterapkan di Indonesia?. Mungkin untuk saat ini jawabannya kita tanyakan pada rumput yang bergoyang. (Abya/arh)
Ternyata ide dan harapan sahabatnya, benar-benar terjadi di negeri Australia, dilansir dari businessinsoder.com.au Karyawan di Australia saat ini bisa bebas menentukan cara kerjanya. Kebebasan ini meliputi waktu kerja, hari libur, hingga di mana dia ingin mengerjakan pekerjaannya.
Apa alasan para pemilik perusahaan di Australia percaya dengan memberikan kebebasan pada pekerja, mereka akan mendapat peningkatan kreativitas, produktivitas, dan pekerja yang bahagia.
Salah satu orang yang menerapkan kebijakan ini Richard Branson, bos dari perusahaan maskapai penerbangan Vigin Airlines, mengaku ide ini datang dari putrinya.
Richard menuturkan, bahwa ia begitu terkesan setelah putrinya mengirimi dirinya sebuah surel mengenai pemberian kebebasan bekerja pada karyawan. Sang putri mengaku ide ini muncul usai membaca artikel tentang kebijakan libur Netflix. Dari situlah Branson ingin mengubah pakem aturan kerja perusahaanya.
"Pekerja bebas menentukan apakah dia ingin mengambil libur beberapa jam, hari, minggu, atau bulan," ujarnya.
Aturan baru ini, lanjutnya, juga membebaskan pekerja harus meminta izin untuk mengambil libur. "Para pekerja dibebaskan libur asalkan tidak mengganggu target penyelesaian proyek atau pekerjaan," tuturnya.
Sistem kerja ini, tambahnya, didasarkan karena saat ini teknologi telah membuat pekerjaan tak ada habisnya dan pekerja hampir tidak memiliki waktu istirahat.
Kebijakan tersebut telah diterapkan olehnya, pada kantor Virgin Airlines cabang Amerika Serikat dan Inggris. Jika cara ini efektif, bukan tidak mungkin akan diperluas ke seluruh kantor cabang perusahaan.
"Ini merupakan inisiatif yang sangat sederhana dan cerdas yang pernah saya dengar. Ini sangat menarik untuk ditunggu hasilnya," jelas Branson.
Seperti diketahui, Richard Branson adalah pengusaha asal Inggris yang sudah memulai usahanya sejak usia 16 tahun. Awalnya Richard mendirikan toko layanan pesan-antar kaset yang di kemudian hari menjadi perusahaan rekaman dan toko musik Virgin Records.
Perusahaan Branson saat ini telah berkembang mencapai sekitar 200 perusahaan yang tersebar di 30 negara. Kekayaannya saat ini ditaksir mencapai USD 5 miliar atau sekitar Rp 50 triliun.
Bagaimana dengan Indonesia? Tentunya bakal menjadi hal yang menarik bukan? Mungkinkah hal seperti itu dapat diterapkan di Indonesia?. Mungkin untuk saat ini jawabannya kita tanyakan pada rumput yang bergoyang. (Abya/arh)
Label:
SEPUTAR MANAJEMEN
9/27/2014
Stop Kebiasaan Buruk Jika Ingin Sukses
Kegagalan dan kesuksesan berawal dari diri kita, seperti hal-nya sebuah
masa dimana masa kini adalah masa yang menentukan masa depan kita. Apa
yang akan terjadi dimasa depan semua itu ditentukan dari apa yang kita
lakukan dimasa kini.
Jangan menyalahkan sebuah keggalan dengan mencari kesalahan dari faktor eksternal. Introfeksilah ke dalam diri pribadi, temukan akar masalah yang menjadikan kita gagal. Hati-hatilah dengan kebiasaan kita dimana ternyata dapat berperan sebagai hambatan untuk mencapai kesuksesan yang diharapkan.
Melansir laman Magforwomen, tanpa menghentikan sejumlah kebiasaan buruk, kita akan lebih sering menemukan kegagalan dibandingkan kesuksesan. Walau memang, sukses tidak pernah datang dengan mudah, akan tetapi kita bisa menggapainya.
Saat ini, ada banyak kebiasaan yang mengganggu produktivitas kita tapi tetap dilakukan. Berikut beberapa kebiasaan yang perlu dihentikan agar kita lebih cepat sukses:
1. Menunda alarm di pagi hari
Hentikan menunda bunyi alarm di pagi hari karena itu berarti kita memulai hari dengan sikap negatif. Saat memutuskan untuk tidur lebih lama, itu berarti kita tidak bersemangat melanjutkan pekerjaan di hari tersebut.
Dibandingkan tidur sepuluh menit lebih lama setelah alarm berbunyi, lebih baik bangun dan segarkan diri. Tidur berlebihan juga dapat mengganggu produktivitas.
2. Menunda pekerjaan
Salah satu kesalahan terbesar yang membuat kita sering gagal adalah kebiasaan menunda pekerjaan. Menyimpan pekerjaan untuk diselesaikan kemudian merupakan hal terburuk yang sering dilakukan pada diri sendiri.
Menunda membuat banyak pekerjaan bertumpuk dan semakin sulit diselesaikan. Memiliki tumpukan pekerjaan dan sedikit waktu merupakan salah satu indikator kegagalan.
3. Mengerjakan banyak kegiatan bersamaan
Mengerjakan banyak tugas di waktu yang sama merupakan keahlian yang hebat. Tapi tahukan kita, hal itu justru dapat mengganggu kredibilitas dan membuat kita gagal baik dalam berkarir maupun berbisnis.
Pastikan perkembangan teknologi dimanfaatkan denga sebaik mungkin untuk meringankan pekerjaan dan bukan membuatnya lebih lama selesai.
4. Berkata iya saat Anda ingin berkata tidak
Saat mengatakan iya pada berbagai hal, artinya kita membuka diri untuk berbagai tugas di kantor. Kita harus paham mana pekerjaan yang menjadi kewajiban dan bukan.
Katakan tidak saat kita memang harus mengatakannya. Berhenti membantu orang untuk melakukan berbagai pekerjaan yang tidak penting.
5. Mengenang karir di masa lalu
Berhenti mengenang kejadian atau karir di masa lalu jika ingin sukses. Lakukan apa yang memang menjadi tugas dan kewajiban kita sekarang.
Kita hidup dimasa kini bukan dimasa lalu dan masa lalu itu sudah menjadi lembaran kehidupan lama. Fokuslah pada kegiatan yang harus dilakukan.
Terlalu banyak membandingkan kehidupan sekarang dengan masa lalu hanya akan menahan langkah kita untuk sukses.
6. Mengorbankan diri sendiri
Berhenti mengorbankan diri sendiri untuk kesuksesan orang lain. Kita harus tetap bekerja dengan baik tanpa mengorbankan diri sendiri. Jadi berhenti menganggap diri Anda dapat mengerjakan banyak hal. (Abya/arh)
Jangan menyalahkan sebuah keggalan dengan mencari kesalahan dari faktor eksternal. Introfeksilah ke dalam diri pribadi, temukan akar masalah yang menjadikan kita gagal. Hati-hatilah dengan kebiasaan kita dimana ternyata dapat berperan sebagai hambatan untuk mencapai kesuksesan yang diharapkan.
Melansir laman Magforwomen, tanpa menghentikan sejumlah kebiasaan buruk, kita akan lebih sering menemukan kegagalan dibandingkan kesuksesan. Walau memang, sukses tidak pernah datang dengan mudah, akan tetapi kita bisa menggapainya.
Saat ini, ada banyak kebiasaan yang mengganggu produktivitas kita tapi tetap dilakukan. Berikut beberapa kebiasaan yang perlu dihentikan agar kita lebih cepat sukses:
1. Menunda alarm di pagi hari
Hentikan menunda bunyi alarm di pagi hari karena itu berarti kita memulai hari dengan sikap negatif. Saat memutuskan untuk tidur lebih lama, itu berarti kita tidak bersemangat melanjutkan pekerjaan di hari tersebut.
Dibandingkan tidur sepuluh menit lebih lama setelah alarm berbunyi, lebih baik bangun dan segarkan diri. Tidur berlebihan juga dapat mengganggu produktivitas.
2. Menunda pekerjaan
Salah satu kesalahan terbesar yang membuat kita sering gagal adalah kebiasaan menunda pekerjaan. Menyimpan pekerjaan untuk diselesaikan kemudian merupakan hal terburuk yang sering dilakukan pada diri sendiri.
Menunda membuat banyak pekerjaan bertumpuk dan semakin sulit diselesaikan. Memiliki tumpukan pekerjaan dan sedikit waktu merupakan salah satu indikator kegagalan.
3. Mengerjakan banyak kegiatan bersamaan
Mengerjakan banyak tugas di waktu yang sama merupakan keahlian yang hebat. Tapi tahukan kita, hal itu justru dapat mengganggu kredibilitas dan membuat kita gagal baik dalam berkarir maupun berbisnis.
Pastikan perkembangan teknologi dimanfaatkan denga sebaik mungkin untuk meringankan pekerjaan dan bukan membuatnya lebih lama selesai.
4. Berkata iya saat Anda ingin berkata tidak
Saat mengatakan iya pada berbagai hal, artinya kita membuka diri untuk berbagai tugas di kantor. Kita harus paham mana pekerjaan yang menjadi kewajiban dan bukan.
Katakan tidak saat kita memang harus mengatakannya. Berhenti membantu orang untuk melakukan berbagai pekerjaan yang tidak penting.
5. Mengenang karir di masa lalu
Berhenti mengenang kejadian atau karir di masa lalu jika ingin sukses. Lakukan apa yang memang menjadi tugas dan kewajiban kita sekarang.
Kita hidup dimasa kini bukan dimasa lalu dan masa lalu itu sudah menjadi lembaran kehidupan lama. Fokuslah pada kegiatan yang harus dilakukan.
Terlalu banyak membandingkan kehidupan sekarang dengan masa lalu hanya akan menahan langkah kita untuk sukses.
6. Mengorbankan diri sendiri
Berhenti mengorbankan diri sendiri untuk kesuksesan orang lain. Kita harus tetap bekerja dengan baik tanpa mengorbankan diri sendiri. Jadi berhenti menganggap diri Anda dapat mengerjakan banyak hal. (Abya/arh)
Label:
SEPUTAR MANAJEMEN
9/25/2014
DIAGNOSIS AWAL
Written By Unknown on 25/09/14 | 9/25/2014
Pertumbuhan yang cepat adalah sinyal lain akan adanya krisis dalam teori bisinis organisasi. Setiap organisasi yang menjadi dua atau tiga kali
lipat besarnya dalam waktu singkat perlu memperluas teori bisnisnya.
Untuk mendiagnosis masalah sejak awal, seorang pemimpin harus
memerhatikan sinyal-sinyal peringatan. Teori bisnis menjadi usang ketika
suatu organisasi telah mencapai tujuan pertamanya.btercapainya suatu
tujuan, tidak menjadi alasan bahwa organisasi bisa terlena, melainkan
organisasi harus membuat pemikiran baru.
Seperti halnya contoh, AT&T telah mencapai misinya memberi akses kepemilijan telepon bagi setiap keluarga dan bisnis di AS pada pertengahan 1950. Kemudian beberapa eksekutif berkata bahwa sudah waktunya untuk menilai kembali teori bisnis mereka dan, sebagai contoh, memisahkan pelayanan lokal (yang tujuannya telah tercapai) dari pertumbuhan dan bisnis di masa depan, yang dimulai dengan pelayanan jarak jauh dan melakukan perluasan dalam telekomunikasi global. Argumen mereka diabaikan, dan beberapa tahun kemudian AT&T mulai menggelapar. AT&T hanya diselamatkan oleh peraturan anti-monopoli yang dilakukan dengan kesanggupan untuk melakukan apa yang pernah ditolak manajemen perusahaan.
Terdapat dua sinyal yang jelas ketika teori bisnis suatu organisasi tidak lagi absah. Salah satunya adalah kesuksesan yang tak terduga, baik perusahaan sendiri ataupun pesaing. Lainnya adalah kegagalan yang tak terduga, baik perusahaan sendiri maupun pesaing.
Sebagai contoh, ketika impor mobil Jepang membuat Detroit's Big Three terdesak, Chrysler mencatat kesuksesan tak terduga. Mobil penumpang tradisionalnya memang kehilangan pangsa pasar lebih cepat dari General Motor dan Ford. Tetapi Jeep dan minivan Chysler meroket. Pada saat yang sama, General Motor menimpin pasar truk ringan di AS, dan tidak tertandingi dalam disain serta kualitas produknya, tetapi GM tidak memberi perhatian pada kapasitas truk ringannya. Bagaimanapun juga, minivan dan truk ringan selalu dimasukkan dalam klasifikasi komersial, bahkan kendaraan penumpang, walaupun dewasa ini sebagian besar dibeli untuk digunakan sebagai kendaraan penumpang. Jika memerhatikan kesuksesan peaaingnya yang lebih lemah, seharusnya General Motor menyadari lebih cepat bahwa asumsinya tentang pasar dan kompetensi inti tidak lagi absah. Sejak awal, pasar minivan dan truk ringan bukanlah pasar kelas menengah atas dan hanya sedikit dipengaruhi oleh harga perdagangan. Ironisnya, sejak 15 tahun yang lalu, General Motor telah sukses dalam bidang produksi truk ringan yang sekarang ini kita sebut pabrikan ramping.
Kegagalan tak terduga adalah peringatan yang sama dengan kesuksesan yang tak terduga dan harus diperhatikan serius bagaikan serangan jantung ringan pada pria berusia 60 tahun. Enam puluh tahun yang lalu Sears menyadari bahwa kegagalannya sebagai pemasok investasi bagi keluarga AS adalah kegagalan teorinya dan bukan sebagai insiden yang terpisah, Sears mulai merestrukturisasi dan memosisikan ulang dirinya 10 tahun lebih cepat daripada yang seharusnya dilakukan saat Sears masih memegang kepemimpinan pasar yang substansial. Sears langsung menyadari, sebagaimana dilakukan oleh J.C. Penney, bahwa kegagalan Dean Writter telah membuang keraguan terhadap seluruh konsep tentang homogenitas pasar, suatu konsep yang menjadi landasan strategi Sears dan peritel massal lainnya selama bertahun-tahun. (Arh/hbr.org)
Seperti halnya contoh, AT&T telah mencapai misinya memberi akses kepemilijan telepon bagi setiap keluarga dan bisnis di AS pada pertengahan 1950. Kemudian beberapa eksekutif berkata bahwa sudah waktunya untuk menilai kembali teori bisnis mereka dan, sebagai contoh, memisahkan pelayanan lokal (yang tujuannya telah tercapai) dari pertumbuhan dan bisnis di masa depan, yang dimulai dengan pelayanan jarak jauh dan melakukan perluasan dalam telekomunikasi global. Argumen mereka diabaikan, dan beberapa tahun kemudian AT&T mulai menggelapar. AT&T hanya diselamatkan oleh peraturan anti-monopoli yang dilakukan dengan kesanggupan untuk melakukan apa yang pernah ditolak manajemen perusahaan.
Terdapat dua sinyal yang jelas ketika teori bisnis suatu organisasi tidak lagi absah. Salah satunya adalah kesuksesan yang tak terduga, baik perusahaan sendiri ataupun pesaing. Lainnya adalah kegagalan yang tak terduga, baik perusahaan sendiri maupun pesaing.
Sebagai contoh, ketika impor mobil Jepang membuat Detroit's Big Three terdesak, Chrysler mencatat kesuksesan tak terduga. Mobil penumpang tradisionalnya memang kehilangan pangsa pasar lebih cepat dari General Motor dan Ford. Tetapi Jeep dan minivan Chysler meroket. Pada saat yang sama, General Motor menimpin pasar truk ringan di AS, dan tidak tertandingi dalam disain serta kualitas produknya, tetapi GM tidak memberi perhatian pada kapasitas truk ringannya. Bagaimanapun juga, minivan dan truk ringan selalu dimasukkan dalam klasifikasi komersial, bahkan kendaraan penumpang, walaupun dewasa ini sebagian besar dibeli untuk digunakan sebagai kendaraan penumpang. Jika memerhatikan kesuksesan peaaingnya yang lebih lemah, seharusnya General Motor menyadari lebih cepat bahwa asumsinya tentang pasar dan kompetensi inti tidak lagi absah. Sejak awal, pasar minivan dan truk ringan bukanlah pasar kelas menengah atas dan hanya sedikit dipengaruhi oleh harga perdagangan. Ironisnya, sejak 15 tahun yang lalu, General Motor telah sukses dalam bidang produksi truk ringan yang sekarang ini kita sebut pabrikan ramping.
Kegagalan tak terduga adalah peringatan yang sama dengan kesuksesan yang tak terduga dan harus diperhatikan serius bagaikan serangan jantung ringan pada pria berusia 60 tahun. Enam puluh tahun yang lalu Sears menyadari bahwa kegagalannya sebagai pemasok investasi bagi keluarga AS adalah kegagalan teorinya dan bukan sebagai insiden yang terpisah, Sears mulai merestrukturisasi dan memosisikan ulang dirinya 10 tahun lebih cepat daripada yang seharusnya dilakukan saat Sears masih memegang kepemimpinan pasar yang substansial. Sears langsung menyadari, sebagaimana dilakukan oleh J.C. Penney, bahwa kegagalan Dean Writter telah membuang keraguan terhadap seluruh konsep tentang homogenitas pasar, suatu konsep yang menjadi landasan strategi Sears dan peritel massal lainnya selama bertahun-tahun. (Arh/hbr.org)
Label:
SEPUTAR MANAJEMEN
9/25/2014
PERAWATAN PREVENTIF
Sebuah organisasi yang telah mencapai tujuan pertama dan mengalami
kemajuan, biasanya mereka menjadi lemah dan kurang waspada. Untuk dapat
menjaga kewaspadaannya, sebuah organisasi harus kembali melihat teori
bisnisnya. Ada dua alat ukur dalam hal ini yaitu dengan yang namanya
pengukuran preventif.
Pengukuran preventif jika digunakan secara konsisten, akan menjaga organisasi tetap waspada serta mengubah teori dan dirinya dengan cepat. Pengukuran preventif pertama adalah pemutusan dan pengukuran preventif kedua adalah mempelajari apa yang terjadi di luar bisnis.
Pengukuran preventif pemutusan
Tiga tahun sekali suatu organisasi harus menghadapkan setiap produk, pelayanan, kebijakan, dan saluran distribusi dengan pertanyaan, "Jika kita belum berada di dalamnya, apakah kita akan memasukinya sekarang?". Dengan mempertanyakan kebijakan dan runtinitas yang ada, organisasi memaksa dirinya sendiri untuk memikirkan teorinya. Organisasi memaksa dirinya sendiri untuk bertanya, "Mengapa hal ini tidak berfungsi walaupun saat kita memasukinya lima tahun yang lalu tampak sangat menjanjikan? Apakah karena kita telah melakukan kesalahan? Apakah karena kita telah melakukan sesuatu yang keliru? Atau apakah karena sesuatu yang benar tidak dapat berjalan?"
Tanpa pemutusan yang sistematik dan bertujuan, suatu organisasi akan dikalahkan oleh kejadian-kejadian yang muncul. Organisasi akan menyia-siakan sumberdaya terbaiknya untuk sesuatu yang tidak pernah dilakukan atau tidak lagi dilakukan. Hasilnya, organisasi akan kemurangan sumberdaya, khususnya orang-orang mampu, yang diperlukan untuk memanfaatkan peluang yang muncul ketika pasar, teknologi, dan kompetensi inti berubah. Dengan kata lain, organisasi tidak akan mampu merespons secara konstruktif peluang yang tercipta jika teori bisnisnya sudah usang.
Pengukuran preventif dengan mempelajari apa yang terjadi diluar bisnis
Walk-arround management lazim dilakukan beberapa tahun ke belakang. Ini penting, sama pentingnya dengan mengetahui sebanyak mungkin tentang customer, area, dimana teknologi informasi menciptakan kemajuan yang paling cepat. Tetapi sinyal pertama dari suatu perubahan jarang sekali muncul di dalam sebuah organisasi atau di antara salah satu customer. Perubahan hampir selalu menampakkan diri pertama kali dari antara non customer. Jumlah non-customer selalu melebihi jumlah customer. Seperti contohnya Wall-Mart, ralsasa peritel dewasa ini, memiliki 14% pangsa pasar barang customer di AS. Ini berarti 86% dari pasar yang ada adalah non customer.
Kenyataannya, contoh terbaik baru-baru ini tentang pentingnya non customer adalah toserba di AS. Pada puncaknya 20 tahun yang lalu, toserba melayani 30% pasar peritel non makanan di AS. Mereka selalu mengajukan pertanyaan pada customernya, mempelajari, dan meneliti mereka. Tetapi toserba itu tidak memberikan perhatian pada 70% pasar yang bukan customer-nya. Mereka tidak melihat pentinganya melakukan hal itu. Teori bisnis mereka mengasumsikan bahwa sebagian besar orang yang dapat membeli di toserba adalah yang terpenting. Lima puluh tahun yang lalu, asumsi ini cocok dengan kenyataan. Tetapi ketika era "baby boomer" tiba, hal itu tidak berlaku lagi. Karena bagi sebagian besar kelompok era itu (perempuan yang berada dalam keluarga terdidik dengan dua penghasilan), uang bukan faktor utama untuk menentukan tempat mereka berbelanja di toserba. Karena toserba hanya terpaku pada customer-nya sendiri, maka mereka menyadari perubahan sampai beberapa tahun yang lalu. Sejak itu bisnis terlanjur mengering. Sudah terlambat untuk menarik kembali customer dari era "baby boomer". Toserba belajar dengan cara yang tidak enak bahwa, walaupun mengarahkan perhatian pada customer adalah sesuatu yang penting, namun hal itu belum cukup. Suatu organisasi juga harus mengarahkan perhatiannya pada pasar. (Arh/hbr.org)
Pengukuran preventif jika digunakan secara konsisten, akan menjaga organisasi tetap waspada serta mengubah teori dan dirinya dengan cepat. Pengukuran preventif pertama adalah pemutusan dan pengukuran preventif kedua adalah mempelajari apa yang terjadi di luar bisnis.
Pengukuran preventif pemutusan
Tiga tahun sekali suatu organisasi harus menghadapkan setiap produk, pelayanan, kebijakan, dan saluran distribusi dengan pertanyaan, "Jika kita belum berada di dalamnya, apakah kita akan memasukinya sekarang?". Dengan mempertanyakan kebijakan dan runtinitas yang ada, organisasi memaksa dirinya sendiri untuk memikirkan teorinya. Organisasi memaksa dirinya sendiri untuk bertanya, "Mengapa hal ini tidak berfungsi walaupun saat kita memasukinya lima tahun yang lalu tampak sangat menjanjikan? Apakah karena kita telah melakukan kesalahan? Apakah karena kita telah melakukan sesuatu yang keliru? Atau apakah karena sesuatu yang benar tidak dapat berjalan?"
Tanpa pemutusan yang sistematik dan bertujuan, suatu organisasi akan dikalahkan oleh kejadian-kejadian yang muncul. Organisasi akan menyia-siakan sumberdaya terbaiknya untuk sesuatu yang tidak pernah dilakukan atau tidak lagi dilakukan. Hasilnya, organisasi akan kemurangan sumberdaya, khususnya orang-orang mampu, yang diperlukan untuk memanfaatkan peluang yang muncul ketika pasar, teknologi, dan kompetensi inti berubah. Dengan kata lain, organisasi tidak akan mampu merespons secara konstruktif peluang yang tercipta jika teori bisnisnya sudah usang.
Pengukuran preventif dengan mempelajari apa yang terjadi diluar bisnis
Walk-arround management lazim dilakukan beberapa tahun ke belakang. Ini penting, sama pentingnya dengan mengetahui sebanyak mungkin tentang customer, area, dimana teknologi informasi menciptakan kemajuan yang paling cepat. Tetapi sinyal pertama dari suatu perubahan jarang sekali muncul di dalam sebuah organisasi atau di antara salah satu customer. Perubahan hampir selalu menampakkan diri pertama kali dari antara non customer. Jumlah non-customer selalu melebihi jumlah customer. Seperti contohnya Wall-Mart, ralsasa peritel dewasa ini, memiliki 14% pangsa pasar barang customer di AS. Ini berarti 86% dari pasar yang ada adalah non customer.
Kenyataannya, contoh terbaik baru-baru ini tentang pentingnya non customer adalah toserba di AS. Pada puncaknya 20 tahun yang lalu, toserba melayani 30% pasar peritel non makanan di AS. Mereka selalu mengajukan pertanyaan pada customernya, mempelajari, dan meneliti mereka. Tetapi toserba itu tidak memberikan perhatian pada 70% pasar yang bukan customer-nya. Mereka tidak melihat pentinganya melakukan hal itu. Teori bisnis mereka mengasumsikan bahwa sebagian besar orang yang dapat membeli di toserba adalah yang terpenting. Lima puluh tahun yang lalu, asumsi ini cocok dengan kenyataan. Tetapi ketika era "baby boomer" tiba, hal itu tidak berlaku lagi. Karena bagi sebagian besar kelompok era itu (perempuan yang berada dalam keluarga terdidik dengan dua penghasilan), uang bukan faktor utama untuk menentukan tempat mereka berbelanja di toserba. Karena toserba hanya terpaku pada customer-nya sendiri, maka mereka menyadari perubahan sampai beberapa tahun yang lalu. Sejak itu bisnis terlanjur mengering. Sudah terlambat untuk menarik kembali customer dari era "baby boomer". Toserba belajar dengan cara yang tidak enak bahwa, walaupun mengarahkan perhatian pada customer adalah sesuatu yang penting, namun hal itu belum cukup. Suatu organisasi juga harus mengarahkan perhatiannya pada pasar. (Arh/hbr.org)
Label:
SEPUTAR MANAJEMEN
9/23/2014
Teori Bisnis
Written By Unknown on 23/09/14 | 9/23/2014
Teori bisnis memilki tiga bagian. Pertama adalah asumsi tentang
lingkungan , yaitu masyarakat dan strukturnya, pasar, customer, dan
teknologi. Kedua adalah asumsi tentang misi spesifik organisasi. Ketiga
adalah asumsi tentang kompentensi inti yang diperlukan untuk mencapai
misi organisasi.
Asumsi tentang lingkungan menjelaskan untuk apa sebuah organisasi dibayar. Asumsi tentang misi menjelaskan sesuatu yang oleh organisasi dianggap sebagai hasil, dengan kata lain, misi memperlihatkan bagaimana pandangan jangka panjang itu sendiri menciptakan perbedaan dalam ekonomi dan masyarakat secara keseluruhan. Pada akhirnya asumsi tentang kompentensi inti menjelaskan dalam hal apa organisasi jarus menonjol untuk dapat mempertahankan kepemimpinan.
Setidaknya ada empat spesifikasi untuk mencapai teori bisnis yang absah:
1. Asumsi tentang lingkungan, misi, dan kompentensi inti harus cocok dengan kenyataan.
2. Asumsi dalam ketiga bidang itu harus cocok satu sama lain.
3. Teori bisnis harus diketahui dan dimengerti oleh seluruh organisasi.
Ini hal yang mudah bagi sebuah organisasi yang masih muda. Tetapi seiring dengan datangnya kesuksesan, suatu organisasi cenderung menyepelekan teorinya dan menjadi semakin kurang menyadarinya. Kemudian organisasi menjadi ceroboh. Organisasi mulai melakukan penghematan, organisasi mulai mengejar apakah yang penting alih-alih yang paling benar dan akhirnya organisasi mulai berhenti untuk berpikir serta mulai berhenti untuk bertanya.
4. Teori bisnis harus terus-menerus diuji
Teori bisnis adalah hipotesa tentang segala sesuatu yang terus-menerus berubah, masyarakat, pasar, customer, dan teknogi. Teori bisnis bukanlah sebuah catatan yang diukir pada waktu, teori bisnis harus dibangun dengan kemampuan untuk mengubah dirinya sendiruang ada beberapa teori bisnis uang sangat ampuh sehingga berlaku jangka panjang. Tetapi bila dianggap sebagai artifak, teori bisnis tidak bisa abadi, bahkan sebaliknya, dewasa ini teori-teori itu jarang sekali dapat bertahan dalam waktu cukup lama. Lambat laun teori bisnis menjadi usang dan mengalami disfungsi. Sebuah organisasi yang mengalami keusangan teori biasanya bersikap defensif. Organisasi itu cenderung bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Realsi berikutnya adalah berusah untuk menambal keusangan tersebut.
Tetapi tindakan menambal tidak pernah dapat berhasil. Sebagai gantinya, ketika suatu teori menunjukan tanda-tanda awal keusangan, itulah saat yang tepat untuk mulai berpikir kembali, mempertimbangkan kembali asumsi-asumsi tentang lingkungan, misi, dan kompentensi inti yang mencerminkan kenyataan dengan lebih akurat, dengan dasar pemikiran bahwa secara historis kita selalu membuat asumsi, maka asumsi yang berlaku ketika kita beranjak dewasa menjadi tidak lagi memadai untuk saat ini.
Meskipun terlihat sederhana namun diperlukan kerja keras, dan pengalaman bertahun-tahun untuk mencapai teori bisnis yang absah.. (Arh/peter F. Drucker. HBR 1994).
Asumsi tentang lingkungan menjelaskan untuk apa sebuah organisasi dibayar. Asumsi tentang misi menjelaskan sesuatu yang oleh organisasi dianggap sebagai hasil, dengan kata lain, misi memperlihatkan bagaimana pandangan jangka panjang itu sendiri menciptakan perbedaan dalam ekonomi dan masyarakat secara keseluruhan. Pada akhirnya asumsi tentang kompentensi inti menjelaskan dalam hal apa organisasi jarus menonjol untuk dapat mempertahankan kepemimpinan.
Setidaknya ada empat spesifikasi untuk mencapai teori bisnis yang absah:
1. Asumsi tentang lingkungan, misi, dan kompentensi inti harus cocok dengan kenyataan.
2. Asumsi dalam ketiga bidang itu harus cocok satu sama lain.
3. Teori bisnis harus diketahui dan dimengerti oleh seluruh organisasi.
Ini hal yang mudah bagi sebuah organisasi yang masih muda. Tetapi seiring dengan datangnya kesuksesan, suatu organisasi cenderung menyepelekan teorinya dan menjadi semakin kurang menyadarinya. Kemudian organisasi menjadi ceroboh. Organisasi mulai melakukan penghematan, organisasi mulai mengejar apakah yang penting alih-alih yang paling benar dan akhirnya organisasi mulai berhenti untuk berpikir serta mulai berhenti untuk bertanya.
4. Teori bisnis harus terus-menerus diuji
Teori bisnis adalah hipotesa tentang segala sesuatu yang terus-menerus berubah, masyarakat, pasar, customer, dan teknogi. Teori bisnis bukanlah sebuah catatan yang diukir pada waktu, teori bisnis harus dibangun dengan kemampuan untuk mengubah dirinya sendiruang ada beberapa teori bisnis uang sangat ampuh sehingga berlaku jangka panjang. Tetapi bila dianggap sebagai artifak, teori bisnis tidak bisa abadi, bahkan sebaliknya, dewasa ini teori-teori itu jarang sekali dapat bertahan dalam waktu cukup lama. Lambat laun teori bisnis menjadi usang dan mengalami disfungsi. Sebuah organisasi yang mengalami keusangan teori biasanya bersikap defensif. Organisasi itu cenderung bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Realsi berikutnya adalah berusah untuk menambal keusangan tersebut.
Tetapi tindakan menambal tidak pernah dapat berhasil. Sebagai gantinya, ketika suatu teori menunjukan tanda-tanda awal keusangan, itulah saat yang tepat untuk mulai berpikir kembali, mempertimbangkan kembali asumsi-asumsi tentang lingkungan, misi, dan kompentensi inti yang mencerminkan kenyataan dengan lebih akurat, dengan dasar pemikiran bahwa secara historis kita selalu membuat asumsi, maka asumsi yang berlaku ketika kita beranjak dewasa menjadi tidak lagi memadai untuk saat ini.
Meskipun terlihat sederhana namun diperlukan kerja keras, dan pengalaman bertahun-tahun untuk mencapai teori bisnis yang absah.. (Arh/peter F. Drucker. HBR 1994).
Label:
SEPUTAR MANAJEMEN
9/23/2014
Inovasi yang sistematis dan bertujuan dimulai dari analisis terhadap
sumber peluang baru. Sumber peluang baru memiliki kepentingan yang
berbeda pada waktu yang berbeda, tergantung pada konteksnya. Demografi
misalnya, sangat kurang diperhatikan oleh inovator untuk sebuah proses
industri dasar. Hal yang sama, pengetahuan baru mingkin hanya memiliki
sedikit relevansi dengan sesorang yang menemukan instrumen sosial untuk
memenuhi kebutuhan akibat adanya perubahan demografi atau aturan pajak.
Tetapi apa pun situasinya, inovator harus menganalisa semua sumber
peluang.
Agar efektif, sebuah inovasi haruslah sederhana dan fokus. Inovasi seharusnya hanya melakukan satu hal, jika tidak, imovasi akan membuat orang menjadi bingung. Bahkan inovasi yang menciptakan pengguna dan pasar yang baru seharusnya diarahkan menuju penetapan desain yang spesifik, jelas, dan hati-hati. Inovasi yang efektif dimulai dari hal yang kecil, inovasi bukanlah sesuatu yang megah. Inovasi dapat berupa sesuatu yang memungkinkan misalnya kendaraan bergerak untuk membangkitkan tenaga listrik ketika berjalan di sepanjang rel kereta api.
Pada kenyataannya, tidak seorang pun yang dapat meramlakan apakah sebuah inovasi akan berakhir menjadi bisnis besar atau hanya pencapaian yang sedang-sedang saja. Tetapi walaupun hasilnya sedang-sedang saja, inovasi yang sukses sejak awal ditujukan untuk menjadi patokan standar, dalam menentukan bisnis yang mendahului yang lain. Jika sejak awal suatu inovasi tidak mengarah pada kepemimpinan, maka inovasi itu mungkin tidak cukup inovatif.
Hal yang terpenting, inovasi adalah sesuatu yang bekerja dan bukanya sesuatu yang jenius. Inovasi memerlukan pengetahuan, inovasi sering memerlukan kecerdikan dan inovasi memerlukan fokus. Jelas ada seorang inovator yang lebih berbakat daripanya yang lainnya, tetapi bakat mereka bera da di bidang yang sudah jelas. Tentu saja seorang inovator jarang bekerja pada lebih dari satu bidang. Seperti halnya Thomas Alfa Edison, untuk pencapaian sistematisnya yang inovatif, ia hanya bekerja dalam bidang kelistrikan.
Dalam inovasi, seperti juga usaha lainnya, terdapat bakat, dan pengetahuan. Tetapi ketika semua telah dikatakan dan dikerjakan, maka yang dibutuhkan oleh inovasi adalah kerja keras, fokus, dan tujuan. Jika tidak ada ketekunan, kegigihan, dan komitmen, maka tidak ada bakat, kecerdikan dan pengetahuan
Karena sebuah inovasi itu bersifat konseptual dan mudah untuk dipahami, maka seorang inovator sebaiknya pergi keluar dan melihat, bertanya serta mendengarkan. Inovasi yang sukses menggunakan keduanya, sisi kanan dan kiri otak. Mereka berkembang secara analitis tentang suatu inovasi yang harus memenuhi suatu peluang. Kemudian mereka keluar dan melihat pada pengguna potensial untuk mempelajari ekspektasi, nilai, dan kebutuhan penggunanya.(Arh/hbr.org)
Prinsip-prinsip Inovasi
Inovasi yang sistematis dan bertujuan dimulai dari analisis terhadap
sumber peluang baru. Sumber peluang baru memiliki kepentingan yang
berbeda pada waktu yang berbeda, tergantung pada konteksnya. Demografi
misalnya, sangat kurang diperhatikan oleh inovator untuk sebuah proses
industri dasar. Hal yang sama, pengetahuan baru mingkin hanya memiliki
sedikit relevansi dengan sesorang yang menemukan instrumen sosial untuk
memenuhi kebutuhan akibat adanya perubahan demografi atau aturan pajak.
Tetapi apa pun situasinya, inovator harus menganalisa semua sumber
peluang.Agar efektif, sebuah inovasi haruslah sederhana dan fokus. Inovasi seharusnya hanya melakukan satu hal, jika tidak, imovasi akan membuat orang menjadi bingung. Bahkan inovasi yang menciptakan pengguna dan pasar yang baru seharusnya diarahkan menuju penetapan desain yang spesifik, jelas, dan hati-hati. Inovasi yang efektif dimulai dari hal yang kecil, inovasi bukanlah sesuatu yang megah. Inovasi dapat berupa sesuatu yang memungkinkan misalnya kendaraan bergerak untuk membangkitkan tenaga listrik ketika berjalan di sepanjang rel kereta api.
Pada kenyataannya, tidak seorang pun yang dapat meramlakan apakah sebuah inovasi akan berakhir menjadi bisnis besar atau hanya pencapaian yang sedang-sedang saja. Tetapi walaupun hasilnya sedang-sedang saja, inovasi yang sukses sejak awal ditujukan untuk menjadi patokan standar, dalam menentukan bisnis yang mendahului yang lain. Jika sejak awal suatu inovasi tidak mengarah pada kepemimpinan, maka inovasi itu mungkin tidak cukup inovatif.
Hal yang terpenting, inovasi adalah sesuatu yang bekerja dan bukanya sesuatu yang jenius. Inovasi memerlukan pengetahuan, inovasi sering memerlukan kecerdikan dan inovasi memerlukan fokus. Jelas ada seorang inovator yang lebih berbakat daripanya yang lainnya, tetapi bakat mereka bera da di bidang yang sudah jelas. Tentu saja seorang inovator jarang bekerja pada lebih dari satu bidang. Seperti halnya Thomas Alfa Edison, untuk pencapaian sistematisnya yang inovatif, ia hanya bekerja dalam bidang kelistrikan.
Dalam inovasi, seperti juga usaha lainnya, terdapat bakat, dan pengetahuan. Tetapi ketika semua telah dikatakan dan dikerjakan, maka yang dibutuhkan oleh inovasi adalah kerja keras, fokus, dan tujuan. Jika tidak ada ketekunan, kegigihan, dan komitmen, maka tidak ada bakat, kecerdikan dan pengetahuan
Karena sebuah inovasi itu bersifat konseptual dan mudah untuk dipahami, maka seorang inovator sebaiknya pergi keluar dan melihat, bertanya serta mendengarkan. Inovasi yang sukses menggunakan keduanya, sisi kanan dan kiri otak. Mereka berkembang secara analitis tentang suatu inovasi yang harus memenuhi suatu peluang. Kemudian mereka keluar dan melihat pada pengguna potensial untuk mempelajari ekspektasi, nilai, dan kebutuhan penggunanya.(Arh/hbr.org)
Label:
SEPUTAR MANAJEMEN
9/17/2014
Kejadian Tak Terduga
Written By Unknown on 17/09/14 | 9/17/2014
Kesuksesan sebuah perusahaan atau industri kebanyakan berawal dari sebuah peluang inovasi. Pikirkan tentang sumber peluang inovasi termudah dan paling sederhana, yaitu sesuatu yang tidak terduga. Pada awal tahun 1930, IBM mengembangkan model mesin akuntinlg modern pertama yang dirancang untuk dunia perbankan. Tetapi tahun 1933, dunia perbankan tidak melakukan pembelian peralatan baru. Tentunya hal tersebut dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi IBM. Perusahaan terselamatkan oleh eksploitasi terhadap kesuksesan yang tidak terduga, yaitu ketika The New York Public Library berminat membeli mesin itu. Berbeda dengan dunia perbankan, pada awal era New Deal, perpustakaan memiliki dana, dan IBM menjual lebih dari 100 mesinnya yang tidak terjual pada perpustakaan
Lima belas tahun kemudian, ketika semua orang yakin bahwa komputer dirancang untuk pekerjaan ilmiah tingkat lanjut, secara tidak terduga dunia bisnis berminat pada mesin yang dapat melakukan pembayaran gaji. Univac, pemilik mesin tercanggih, menolak aplikasi bisnis ini. Tetapi IBM segera menyadari bahwa mereka mungkin menghadapi kesuksesan tak terduga. Mereka merancang ulang apa yang pada dasarnya adalah mesin univac untuk aplikasi biasa semisal penggajian, dan dalam waktu lima tahun berhasil menjadi pemimpin dalam industri komputer. Posisi yang dipertahankaannya sampai saat ini.
Kegagalan tak terduga dapat menjadi sumber peluang inovasi yang sama pentingnya. Setiap orang mengenai mengenal Ford Edsel sebagai kegagalan mobil baru terbesar dalam swjarah otomotif. Namun tampaknya ada segelintir orang yang tahu bahwa kegagalan Edsel adalah dasar bagi kesuksesan perusahaan selanjutnya. Ford merencanakan Edsel, mobil yang dirancang paling hati-hati pada saat itu dalam sejarah otomotif AS, untuk memberi sebuah lini produk lengkap menghadapi persaingannya dengan GM. Ketika mobil ini meledak dipasaran, walaupun semua perencanaan, penelitian pasar, dan rancangan dikerahkan untuk membuat mobil itu, ford menyadari bahwa sesuatu telah terjadi dalam pasar mobil yang membalikkan asumsi dasar yang digunakan oleh GM dan siapa pun yang lain yang telah merancang dan memasarkan mobil. Pasar tidak lagi disegmentasikan pada kelompok berpendapatan; prinsip segmentasi yang baru adalah apa yang sekarang kita sebut sebagai "gaya hidup". Respon Fors adalah Mustang, sebuah mobil yang memberikan kepribadian berbeda terhadap perusahaan dan memantapkan Ford kembali sebagai pemimpin dalam industrinya.
Kesuksesan dan kegagalan tak terduga adalah semacam peluang inovasi yang produktif karena sebagian besar bisnis mengesampingkannya, mengabaikannya, dan bahkan menyesalkannya. Padahal bila kita cerdas menanggapinya akan mendapatkan sebuah hasil yang diluar dugaan. Kegagalan tak terduga adalah sebuah peluang inovasi yang akan membawa kepada kesuksesan. (Arh/Peter F. Drucker/1967 hbr.org)
Lima belas tahun kemudian, ketika semua orang yakin bahwa komputer dirancang untuk pekerjaan ilmiah tingkat lanjut, secara tidak terduga dunia bisnis berminat pada mesin yang dapat melakukan pembayaran gaji. Univac, pemilik mesin tercanggih, menolak aplikasi bisnis ini. Tetapi IBM segera menyadari bahwa mereka mungkin menghadapi kesuksesan tak terduga. Mereka merancang ulang apa yang pada dasarnya adalah mesin univac untuk aplikasi biasa semisal penggajian, dan dalam waktu lima tahun berhasil menjadi pemimpin dalam industri komputer. Posisi yang dipertahankaannya sampai saat ini.
Kegagalan tak terduga dapat menjadi sumber peluang inovasi yang sama pentingnya. Setiap orang mengenai mengenal Ford Edsel sebagai kegagalan mobil baru terbesar dalam swjarah otomotif. Namun tampaknya ada segelintir orang yang tahu bahwa kegagalan Edsel adalah dasar bagi kesuksesan perusahaan selanjutnya. Ford merencanakan Edsel, mobil yang dirancang paling hati-hati pada saat itu dalam sejarah otomotif AS, untuk memberi sebuah lini produk lengkap menghadapi persaingannya dengan GM. Ketika mobil ini meledak dipasaran, walaupun semua perencanaan, penelitian pasar, dan rancangan dikerahkan untuk membuat mobil itu, ford menyadari bahwa sesuatu telah terjadi dalam pasar mobil yang membalikkan asumsi dasar yang digunakan oleh GM dan siapa pun yang lain yang telah merancang dan memasarkan mobil. Pasar tidak lagi disegmentasikan pada kelompok berpendapatan; prinsip segmentasi yang baru adalah apa yang sekarang kita sebut sebagai "gaya hidup". Respon Fors adalah Mustang, sebuah mobil yang memberikan kepribadian berbeda terhadap perusahaan dan memantapkan Ford kembali sebagai pemimpin dalam industrinya.
Kesuksesan dan kegagalan tak terduga adalah semacam peluang inovasi yang produktif karena sebagian besar bisnis mengesampingkannya, mengabaikannya, dan bahkan menyesalkannya. Padahal bila kita cerdas menanggapinya akan mendapatkan sebuah hasil yang diluar dugaan. Kegagalan tak terduga adalah sebuah peluang inovasi yang akan membawa kepada kesuksesan. (Arh/Peter F. Drucker/1967 hbr.org)
Label:
SEPUTAR MANAJEMEN
9/13/2014
KLASIFIKASIKAN KEPUTUSAN
Written By Unknown on 13/09/14 | 9/13/2014
Pembuat keputusan yang efektif harus mempertanyakan: Apakah kondisi ini bersifat mendasar atau hanya penyimpangan sementara? Sesuatu yang bersifat umum atau mendasar harus diatasi oleh serangkaian peraturan, namun bila hanya berupa sementara atau pengecualian maka dapat diatasi pada saat kemunculannya saja.
Pada intinya, eksekutif harus dapat membedakan empat jenis kejadian yang berbeda.
Pertama, ada kejadian yang sifatnya generik, di mana kejadian yang muncul hanya gejala. Sebagian besar "masalah" yang muncul dalam pekerjaan elsekutif berasal dari kondisi ini. Keputusan inventory dalam bisnis misalnya, bukan suatu "keputusan". Itu adalah penyesuaian, masalahnya bersifat umum. Hal seperti ini tampaknya lebih banyak terjadi di dalam organisasi pabrikan. Misalnya;
Tim pengendalian produk dan engineering biasanya menangani ratusan masalah dalam sebulan. Namun ketika dilakukan analisis, terbukti bahwa sebagian besar masalah hanyalah gejala dan manifestasi dari suatu situasi yang mendasari. Insinyur produksi yang bekerja di salah satu bagian pabrik biasanya tidak melihat hal ini. Mungkin satu-satunya masalah yang ia lihat adalah sambungan pipa penyalur uap atau cairan panas.
Ketika dilakukan analisis terhadap beban kerja kelompok secara keseluruhan selama beberapa bulan, maka masalah yang bersifat umum akan terlihat. Akan terlihat bahwa tekanan terhadap sambungan saluran sudah terlalu besar sehingga harus dirancang ulang agar mampu dilewati oleh beban yang lebih berat. Pengendali proses akan terus menerus mengahbiskan waktu untuk mengatasi kebocoran sampai analisa tersebut ditemukan.
Kejadian kedua adalah masalah yang walaupun sifatnya unik bagi suatu institusi tetapi sebenarnya bersifat generik. Bahan perenungan:
Perusahaan yang menerima penawaran untuk merjer dengan perusahaan lain yang lebih besar, tidak akan menerima penawaran semacam itu lagi jika penawaran tersebut diterima. Ini bukan situasi yang sifatnya berulang sejauh diperhatikan oleh perusahaan, dewan direktur dan manajemen. Tetapi tentu saja ini adalah situasi generik yang sering terjadi. Menerima atau menolak penawaran tersebut tetap membutuhkan aturan standar dan bagaimanapun juga eksekutif harus bercermin pada pengalaman perusahaan lain.
Contoh berikut adalah kejadian yang benar-benar pengecualian yang harus dibedakan oleh eksekutif
Kegagalan energi listrik terbesar yang membuat seluruh Northeastern di Amerika Utara, mulai St. Lawrence sampai Washington menjadi gelap gulita pada bulan November 1965, menurut penjelasan pertama adalah benar-benar situasi pengecualian. Demikian juga dengan tragedi thalidomide yang menyebabkan banyaknya bayi dilahirkan dengan cacat tubuh pada awal 1960. Kemungkinan terjadinya kedua peristiwa itu, menurut informasi yang didapat, adalah satu dari dua puluhan juta atau satu dalam ratusan juta. Dan kedua kejadian ini tidak mungkin terulang seperti halnya tidak mungkin bagi sebuah kursi untuk terpisah menjadi unsur-unsur atomnya.
Namun kejadian yang benar-benar unik sangat jarak terjadi. Ketika hal itu muncul, pengambil keputusan harus bertanya, apakah ini benar-benar perkecualian atau hanya manifestasi awal dari suatu kasus jenis baru? Dan hal ini (manifestasi awal dari masalah yang besifat generik) adalah kategori keempat dan terakhir yang dihadapi dalam proses pengambilan keputusan. Berikut:
Kita telah tahu sekarang bahwa baik kegagalan energi listrik di Northeastern maupun tragedi thalidomide hanyalah kejadian pertama, dalam kondisi teknologi listrik modern atau farmasi modern, sesuatu yang mungkin akan cukup sering terjadi jika solusi yang bersifat generik tidak ditemukan.
Semua kejadian, kecuali yang benar-benar unik, memerlukan solusi yang bersifat generik. Semua itu perlu aturan, kebijakan, dan prinsip. Jika prinsip yang benar sudah dikembangkan, maka semua manifestasi dari situasi generik yang sama dapat ditangani secara pragmatis dengan menyesuaikan aturan terhadap situasi kasus konkret. Namun kejadian yang benar-benar unik harus diperlakukan secara individual. Eksekutif tidak dapat mengembangkan peraturan untuk kejadian yang sifatnya perkecualian
Sejauh ini kesalahan yang paling sering dilakukan oleh pengambil keputusan adalah memperlakukan situasi yang sifatnya generik seolah-olah adalah serangkaian kejadian unik yaitu bersikap pragmatis ketika kurangb pemahaman dan prinsip umum. Dapat dipastikan bahwa mereka akan merasa frustasi dan sia-sia.
Sebagai bahan perenungan dalam kasus seperti itu tampak jelas pada serangkaian kegagalan kebijakan pemerintahan Kennedy, baik domestik maupun luar negeri. Renungkan:
Dengan semua anggotanya yang cemerlang, sebenarnya kesuksesan pemerintahan kennedy hanya satu, yaitu mengatasi krisis peluru kendali di Kuba. Selain itu secara praktis mereka tidak mencapai apa pun. Anggota menyebut "pragmatisme" sebagai alasannya, misalnya penolakan pemerintahan Kennedy atas pengembangan peraturan dan prinsip-prinsip, dan desakan mereka untuk melatih segala sesuatu "berdasar keunggulannya". Namun jelas bagi setiap orang, termasuk pemerintah, bahwa asumsi yang mendasari kebijakan (asumsi yang absah untuk periode setelah perang) pada tahun 1960 telah menjadi semakin tidak realistis bagi urusan internasional, begitu juga kebijakan domestik.
Sebaliknya serupa dengan itu adalah kesalahan dalam memperlakukan kejadian baru seolah-olah adalah contoh lain dari masalah kuno dimana dan oleh karenanya, harus diterapkan aturan lama:
Ini merupakan kasus bola salju di mana kegagalan energi di tingkat lokal (perbatasan New York dan Ontario) berkembang menjadi kegelapan total di seluruh Northeastern. Sebenarnya, petugas, terutama di New York, telah menetapkan aturan standar bila terjadi beban berlebih. Namun peralatan yang mereka gunakan telah memberi sinyal bahwa sesuatu yang luar biasa akan terjadi. Kondisi ini dapat disebut perkecualian.
Sebaliknya, satu kemenangan Presiden Kennedy dalam krisis peluru kendali di Kuba terletak pada tantangan yang dipikirkan secara mendalam sebagai suatu kejadian yang luar biasa dan pengecualian. Segera sesudah ia menerima tantangan ini, sumberdaya intelijennya yang luar biasa besar dan berani secara efektif mulai berperan. (Arh/Peter F. Drucker, 1967/hbr.org)
Pada intinya, eksekutif harus dapat membedakan empat jenis kejadian yang berbeda.
Pertama, ada kejadian yang sifatnya generik, di mana kejadian yang muncul hanya gejala. Sebagian besar "masalah" yang muncul dalam pekerjaan elsekutif berasal dari kondisi ini. Keputusan inventory dalam bisnis misalnya, bukan suatu "keputusan". Itu adalah penyesuaian, masalahnya bersifat umum. Hal seperti ini tampaknya lebih banyak terjadi di dalam organisasi pabrikan. Misalnya;
Tim pengendalian produk dan engineering biasanya menangani ratusan masalah dalam sebulan. Namun ketika dilakukan analisis, terbukti bahwa sebagian besar masalah hanyalah gejala dan manifestasi dari suatu situasi yang mendasari. Insinyur produksi yang bekerja di salah satu bagian pabrik biasanya tidak melihat hal ini. Mungkin satu-satunya masalah yang ia lihat adalah sambungan pipa penyalur uap atau cairan panas.
Ketika dilakukan analisis terhadap beban kerja kelompok secara keseluruhan selama beberapa bulan, maka masalah yang bersifat umum akan terlihat. Akan terlihat bahwa tekanan terhadap sambungan saluran sudah terlalu besar sehingga harus dirancang ulang agar mampu dilewati oleh beban yang lebih berat. Pengendali proses akan terus menerus mengahbiskan waktu untuk mengatasi kebocoran sampai analisa tersebut ditemukan.
Kejadian kedua adalah masalah yang walaupun sifatnya unik bagi suatu institusi tetapi sebenarnya bersifat generik. Bahan perenungan:
Perusahaan yang menerima penawaran untuk merjer dengan perusahaan lain yang lebih besar, tidak akan menerima penawaran semacam itu lagi jika penawaran tersebut diterima. Ini bukan situasi yang sifatnya berulang sejauh diperhatikan oleh perusahaan, dewan direktur dan manajemen. Tetapi tentu saja ini adalah situasi generik yang sering terjadi. Menerima atau menolak penawaran tersebut tetap membutuhkan aturan standar dan bagaimanapun juga eksekutif harus bercermin pada pengalaman perusahaan lain.
Contoh berikut adalah kejadian yang benar-benar pengecualian yang harus dibedakan oleh eksekutif
Kegagalan energi listrik terbesar yang membuat seluruh Northeastern di Amerika Utara, mulai St. Lawrence sampai Washington menjadi gelap gulita pada bulan November 1965, menurut penjelasan pertama adalah benar-benar situasi pengecualian. Demikian juga dengan tragedi thalidomide yang menyebabkan banyaknya bayi dilahirkan dengan cacat tubuh pada awal 1960. Kemungkinan terjadinya kedua peristiwa itu, menurut informasi yang didapat, adalah satu dari dua puluhan juta atau satu dalam ratusan juta. Dan kedua kejadian ini tidak mungkin terulang seperti halnya tidak mungkin bagi sebuah kursi untuk terpisah menjadi unsur-unsur atomnya.
Namun kejadian yang benar-benar unik sangat jarak terjadi. Ketika hal itu muncul, pengambil keputusan harus bertanya, apakah ini benar-benar perkecualian atau hanya manifestasi awal dari suatu kasus jenis baru? Dan hal ini (manifestasi awal dari masalah yang besifat generik) adalah kategori keempat dan terakhir yang dihadapi dalam proses pengambilan keputusan. Berikut:
Kita telah tahu sekarang bahwa baik kegagalan energi listrik di Northeastern maupun tragedi thalidomide hanyalah kejadian pertama, dalam kondisi teknologi listrik modern atau farmasi modern, sesuatu yang mungkin akan cukup sering terjadi jika solusi yang bersifat generik tidak ditemukan.
Semua kejadian, kecuali yang benar-benar unik, memerlukan solusi yang bersifat generik. Semua itu perlu aturan, kebijakan, dan prinsip. Jika prinsip yang benar sudah dikembangkan, maka semua manifestasi dari situasi generik yang sama dapat ditangani secara pragmatis dengan menyesuaikan aturan terhadap situasi kasus konkret. Namun kejadian yang benar-benar unik harus diperlakukan secara individual. Eksekutif tidak dapat mengembangkan peraturan untuk kejadian yang sifatnya perkecualian
Sejauh ini kesalahan yang paling sering dilakukan oleh pengambil keputusan adalah memperlakukan situasi yang sifatnya generik seolah-olah adalah serangkaian kejadian unik yaitu bersikap pragmatis ketika kurangb pemahaman dan prinsip umum. Dapat dipastikan bahwa mereka akan merasa frustasi dan sia-sia.
Sebagai bahan perenungan dalam kasus seperti itu tampak jelas pada serangkaian kegagalan kebijakan pemerintahan Kennedy, baik domestik maupun luar negeri. Renungkan:
Dengan semua anggotanya yang cemerlang, sebenarnya kesuksesan pemerintahan kennedy hanya satu, yaitu mengatasi krisis peluru kendali di Kuba. Selain itu secara praktis mereka tidak mencapai apa pun. Anggota menyebut "pragmatisme" sebagai alasannya, misalnya penolakan pemerintahan Kennedy atas pengembangan peraturan dan prinsip-prinsip, dan desakan mereka untuk melatih segala sesuatu "berdasar keunggulannya". Namun jelas bagi setiap orang, termasuk pemerintah, bahwa asumsi yang mendasari kebijakan (asumsi yang absah untuk periode setelah perang) pada tahun 1960 telah menjadi semakin tidak realistis bagi urusan internasional, begitu juga kebijakan domestik.
Sebaliknya serupa dengan itu adalah kesalahan dalam memperlakukan kejadian baru seolah-olah adalah contoh lain dari masalah kuno dimana dan oleh karenanya, harus diterapkan aturan lama:
Ini merupakan kasus bola salju di mana kegagalan energi di tingkat lokal (perbatasan New York dan Ontario) berkembang menjadi kegelapan total di seluruh Northeastern. Sebenarnya, petugas, terutama di New York, telah menetapkan aturan standar bila terjadi beban berlebih. Namun peralatan yang mereka gunakan telah memberi sinyal bahwa sesuatu yang luar biasa akan terjadi. Kondisi ini dapat disebut perkecualian.
Sebaliknya, satu kemenangan Presiden Kennedy dalam krisis peluru kendali di Kuba terletak pada tantangan yang dipikirkan secara mendalam sebagai suatu kejadian yang luar biasa dan pengecualian. Segera sesudah ia menerima tantangan ini, sumberdaya intelijennya yang luar biasa besar dan berani secara efektif mulai berperan. (Arh/Peter F. Drucker, 1967/hbr.org)
Label:
SEPUTAR MANAJEMEN
9/04/2014
DISIPLIN DALAM INOVASI
Written By Unknown on 04/09/14 | 9/04/2014
Walaupun banyak diskusi, seminar dan buku yang dewasa ini
membicarakan tentang "kepribadian kewirausahaan", namun segelintir
pengusaha yang memiliki kepribadian semacam itu. Tetapi banyak orang seperti
tenaga penjual, ahli bedah, jurnalis, sarjana, dan bahkan musikus yang memiliki
kepribadian seperti itu namin tidak menjadi pengusaha.
Pengusaha sukses umumnya meraih kesuksesan bukan karena
memiliki sejenis kepribadian tertentu, tetapi karena adanya komitmen untuk
menerapkan inovasi secara sistematis. Inovasi adalah gungsi spesifik dari
kewirausahaan, baik dalam bisnis yang sudah ada, instituisi pelayanan publik,
atau spekulasi individu baru dari dapur keluarga. Inovasi adalah alat bagi
pengusaha untuk menciptakan sumberdaya baru yang memproduksi kekayaan atau
memberi peningkatan potensi sumberdaya yang sudah ada untuk menciptakan
kekayaan.
Pada sebagian besar bisnis yang telah mapan melibatkan
kewirausahaan yang sangat sukses. Inti dari semua aktivitas itu adalah inovasi,
yaitu usaha untuk menciptakan perubahan yang bertujuan dan fokus pada suatu
potensi ekonomi dan sosial perusahaan. (arh)
Label:
SEPUTAR MANAJEMEN
9/02/2014
PARUH KEDUA HIDUP ANDA
Written By Unknown on 02/09/14 | 9/02/2014
Ketika masa karir pada sebagian eksekutif telah memasuki
paruh baya, kebanyakan mengalami rasa bosan. Pada masa ini kebanyakan eksekutif
telah mencapai puncak karie bisnis mereka. Setelah 20 tahun melakukan pekerjaan
yang sama, mereka menjadi sangat terampil. Tetapi mereka tidak belajar,
berkonibusi, atau menperoleh tantangan dan kepuasan dari pekerjaan. Malah
tampaknya mereka masih akan menghadapi pekerjaan tersebut selama 20 atau 25
tahun berikutnya.
Bagaimana agar kita tidak terjebak pada keadaan seperti hal
diatas dan kita masih terus memiliki produktifitas pada karir. Ada tiga cara
untuk mengembangkan karier kedua.
Pertama, adalah dengan memulai sesuatu yang baru. Sering
kali hal ini tidak lebih dari berpindah dari satu jenis organisasi ke
organisasi lainnya.
Kedua, untuk mempersiapkan setengaha bagian kedua kehidupan
kita adalah dwmgan mengembangkan karir pararel. Banyak orang yang sangat sukses
dalam karir pertamanya namun tetap mengerjakan apa yang selama ini dikerjakannya,
baik sebagai karyawan tetap, paruh waktu, ataupun sebagai konsultan. Misalnya
mereka mengelola panti penampungan secara bergantian, sebagai petugas
perpustakaaan, duduk didewan sekolah dan lai -lain.
Akhirnya muncullah pengusaha sosial. Biasanya mereka ini
adalah orang-orang yang telah meraih sukses dalam karir mereka. Mereka
mencintai pekerjaan, tetapi pekerjaan itu tidak lagi memberikan tantangan.
Dalam hal ini kebanyakan mereka terus
mengerjakan apa yang selama ini dikerjakan, tetapi mengurangi sedikit demi
sesikit awaktunya untuk pekerjaan itu. Biasanya aktivitas yang mereka lakukan
adalah aktivitas nirlaba.
Ada satu persyaratan mutlak untuk mengelola paruh kedua
kehidupan Anda. Anda harus memulainya jauh sebelum Anda memasukinya. Dalam hal
ini Anda harus pandai untuk mempersiapkan sejak awal, mengelola diri sangatlah
jelas kalau tidak mau disebut mendasar. Dan jawabannya dapat terbukti dengan
sendirinya sampai pada titik yang terlihat naif. (arh/sumber Havard Business
Review)
Label:
SEPUTAR MANAJEMEN
9/02/2014
KEPUTUSAN EFEKTIF
Seorang pemimpin yang efektif tahu kapan sebuah keputusan
harus berlandaskan prinsip, dan kapan keputusan dibuat secara pragmatis
tergantung kasusnya. Mereka tahu bahwa keputusan terumit adalah kompromi antara
yang benar dan buruk, dan mereka telah belajar untuk membedakan satu dengan
yang lainnya. Mereka tahu bahwa langkah yang paling banyak menghabiskan waktu
dalam suatu proses bukanlah pembuatan keputusan, tetapi pelaksannya. Jika
keputusan tidak diturunkan ke dalam bentuk pekerjaan, maka itu bukan keputusan;
itu hanyalah niat baik. Ini berarti bahwa, ketika keputusan yang efektif itu
sendiri didasari pada tingkat pemahaman konseptual tertinggi, maka komitmen
untuk bertindak harus sesuai dengan kapasitas pelaksananya.
Elemen yang ada dengan sendirinya "membentuk"
suatu keputusan. Sesungguhnya setiap keputusan adalah pertimbangan berisiko.
Kecuali jika elemen-elemen ini adalah batu loncatan suatu proses keputusan,
maka pemimpin tidak akan sampai pada keputusan yang tepat dan pasti tidak
efektif. Oleh karenanya, untuk dapat mengambil sebuah keputusan yang efektif,
uraikankanlah dahulu keputusan tersebut berdasarkan langkah dalam proses
pengambilan keputusan, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Mengklasifikasikan masalah. Apakah ini masalah generik?
Apakah ini masalah yang sifatnya pengecualian dan unik? Atau apakah ini
manifestasi pertama dari kasus jenis baru yang belum ada aturannya?
2. Mensdefinisikan masalah. Apa yang akan kita hadapi?
3. Menspesifikasikan masalah
Bagaimana "kondisi pembatas"-nya?
4. Memutuskan apa yang "benar", dan bukannya apa
yang dapat diterima, untuk memenuhi kondisi pembatas. Apa yang akan bemar-benar
memenuhi spesifikasi sebelum mengarahkan perhatian pada kompromi, adaptasi, dan
konsesi yang diperlukan agar keputusan dapat diterima?
5. Membangun tindakan yang harus dilaksanakan di dalam satu
keputusan. Apakah komitmen tindakan yang seharusnya dilakukan? siapa yang harus
tahu tentang hal ini?
6. Menguji keabsahan dan efektifitas keputusan yerhadao
serangkaian kejadian nyata. Bagaimana keputusan dijalankan? Apakah asumsi yang
melandasinya masih layak atau sudah usang?
(arh/sumber: Classic Drucker)
Label:
SEPUTAR MANAJEMEN
9/02/2014
MENGELOLA DIRI SENDIRI
Kita hidup di era yang tak terduga, jika memiliki ambisi dan cerdik, pasti dapat
naik ke puncak profesi pilihan Anda. Untuk dapat melakukan hal ini dengan baik,
perlu ditanamkan pemahaman mendalam tentang diri sendiri, tak hanya mengenai
kekuatan dan kelemahan tetapi juga bagaimana Anda belajar, bekerjasama dengan
oranglain, dan nilai-nilai yang Anda pegang, serta ke mana kontribusi terbesar
diberikan. Karena hanya bekerja dengan keunggulan, Anda dapat mencapai
kesempurnan yang sesungguhnya.
Orang-orang besar sepanjang sejarah, Napeloen, da Vinci,
Mozart, selalu mengelola diri mereka sendiri. Secara keseluruhan, itulah yang
membuat mereka besar. Tetapi orang-orang seperti mereka jarang ada, sangat baik
dalam hal bakat maupun pencapaian sehingga dianggap melampaui manusia biasa.
Kebanyakan dari kita, bahkan sebagian dengan karunia yang tidak terlalu besar,
diharuskan untuk belajar mengelola diri. Kita harus belajar mengembangkan diri,
kita harus memosisikan diri di tempat kita dapat memberikan kontribusi
terbesar. Dibawah ini ter dapat tujuh langkah yang dapat membantu dalam
mengetahui tentang diri kita.
1. Apa Kekuatan Saya?
Sepanjang sejarah, orang merasa tidak perlu mengetahui
kekuatannya. Seorang dilahirkan dengan posisi dan garis tertentu, seorNg anak
petani akan menjadi petani, putri seorang montir akan menjadi istri montir.
Akan tetapi sekarang orang memiliki pilihan. Mengenali kekuatan merupakan
keharusan agar dapat mengetahui dimana kita semestinya berada.
Cara untuk menemukan kekuatan Anda adalah melalui analisa
umpan balik. Ketika Anda membuat keputusan atau mengambil tindakan penting,
tuliskan kejadian yang Anda harapkan akan terjadi. Sembilan atau 12 bulan
kemudian, bandingkan hasil nyata dengan harapan Anda.
Analisa umpan balik, jika diterapkan secara konsisten, dalam
waktu dua hingga tiga tahun, metode ini
akan menunjukkan letak kekuatan Anda. Metode ini juga menunjukkan titik
dimana Anda tidak kompeten. Akhirnya, metode ini menunjukkan titik kelemahan
Anda dan tugas-tugas yang tidak dapat Anda jalankan dengsn baik.
Analisa umpan balikdiikuti dengan implikasi berupa beberapa
tindakan.
Pertama dan terutama, konsentrasikan pada kekuatan Anda.
Tempatkan diri pada titik di mana kekuatan Anda membuahkan hasil.
Kedua, tingkatkan kekuatan Anda. Hasil analisis ini dengan
cepat akan memperlihatkan titik di mana Anda perlu meningkatkan dan memperoleh
keterampilan baru.
Ketiga, analisis umpan balik akan menemukan di mana
keangkuhan intelektual yang melumpuhkan ketidaktahuan Anda, dan kemudian
mengatasinya. Dalam hal ini juga berkaitan dengan etika sopan santun, dimana
sopan santun adalah bagaikan pelumas dalam sebuah organisasi. Adalah hukum alam
bahwa gesekan akan muncul ketika dua tubuh bergerak dan bersentuhan satu sama
lain. Jangan remehkan hal kecil, walau hanya sekedar ucapan terimakasih atau
silahkan serta mengetahui nama seseorang atau menanyakan kesehatan keluargnya.
2. Bagaimana Saya Berkinerja?
Begitu banyak orang yang bekerja bukan dengan cara mereka
sendiri, dan itu menjamin tidak adanya kinerja. Seperti halnya talenta
seseorang, , bagaimana seseorang berkinerja adalah sesuatu yang unik. Hal itu
berkaitan dengan kepribadian. Apakah kpribadian itu alami atau dikembangkan,
tentun saja dibentuk jauh sebelum seseorang pergi bekerja.
Dan bagaimana seseorang berkinerja adalah bakat atau
pemberian (given), demikian juga dengan kelebihan atau kekurangan seseorang.
Kinerja seseorang dapat sedikit dimodifikasi, tetapi tidak mungkin menjadi
benar-benar berubah dan tentunya bukan hal yang mudah. Pada saat seseorang
berhasil melakukan sesuatu dengan baik di bidang keahlian mereka, pada saat
yang sama mereka juga mencapai keberhasilan dengan melakukannya sesuai dengan
cara terbaik mereka.
3. Apakah saya seorang pembaca atau pendengar?
Pertama-tama Anda harus tahu apakah Anda termasuk tipe
pembaca atau pendengar. Sedikit sekali orang yang tahu bahwa mereka seorang pembaca
dan pendengar, dan jarang sekali ada orang yang merupakan keduanya. Bahkan
lebih sedikit lagi orang yang tahu bahwa mereka adalah satunya.
Setelah Anda mengetahui bahwa diri Anda adalah tipe pembaca
ataupun pendengar bekerjalah berdasarkan dari tipikel yang ada pada diri Anda
sendiri, jangan pernah mengubah ataupun menjadi orang lain.
Sedikit sekali pendengar yang dapat diciptakan, atau membuat
dirinya menjadi pembaca yang kompeten, begitu juga sebaliknya. Pendengar yang
mencoba untuk menjadi pembaca akan menemui kegagalan begitu juga sebaliknya.
Jadi dalam hal ini hanya menjadi diri sendirilah yang akan membawa Anda
kejenjang keberhasilan.
4. Bagaimana Saya Belajar?
Hal kedua untuk nengetahui cara kerja seseorang adalah
dengan mengetahui cara belajarnya. Banyak penulis kelas atas salah satunya
adalah Winston Churchill tidak memiliki prestasi yang baik di sekolah. Mereka
cenderung mengenang masa sekolahnya sebagai masa penyiksaan. Mungkin, mereka
tidak terlalu menikmati sekolah, tetapi hal terburuk yang mereka derita adalah
kebosanan. Penjelasannya adalah bahwa lazimnya penulis tidak boleh belajar
dengan cara menulis. Karena sekolah tidak mengizinkan mereka untuk belajar
dwngan cara ini, maka mereka mendapatkan nilai buruk.
Sekolah di mana pun disusun dengan asumsi bahwa hanya ada
satu cara tepat untuk belajar dan cara ini berlaku bagi semua orang. Tetapi
tekanan untuk belajar dan cara ini berlaku bagi semua orang Tetapi tekanan untuk belajar dwngan cara yang
diajarkan di sekolah adalah ibarat neraka bagi pelajar yang memiliki cara
belajar berbeda. Sebenarnya mungkin terdapat banyak cara lain untuk belajar.
Dari semua bagian penting tentang pwngetahuan mengenai diri sendiri, memahami cara Anda
belajar adalah sesuatu yang paling mudah untuk sikuasai. Inti dari semua itu
mengandung pengulangan bahwa jangan mencoba untuk mengubah diri Anda,
kemungkinan tidak akan berhasil. Tetapi bekerjakeraslah untuk meningkatkan cara
Anda berkinerja. Cobalah untuk tidak melakukan pekerjaan yang tidak Anda kuasai
atau pekerjaan Anda itu tidak akan menghasilkan apa pun.
5. Apa nilai-nilai saya?
Untuk dapat mengelola diri Anda, pada akhirnya Anda harus
bertanya, apa saja nilai saya? Ini bukan pertanyaan tentang etika. Sehubungan
dengan etika, aturan yang berlaku akan sama bagi setiap orang, dan ujian ini
sangat mudah.
Pada awal abad ke-20, diplomatb yang paling dihormati di
antara semua negara besar adalah duta besar Jerman untuk Inggris. Jelas ia
ditakdirkan untuk suatu hal besar, yaitu menjadi msenteri luarnegeri bagi
negaranya, setidaknya kanselir bagi federalnya. Namun pa da tahun 1906 dengan
tiba-tiba ia mengundurkan diri karena menolak mwemimpin acara makan malam yang
diadakan korps diplomatik bagi Edward VII. Raja Edward adalah sosok yang
terkenal dengan kesenangannya bermain cinta dan sudah jelas makan malam seperti
apa yang dikehendakinya. Duta besar dilaporkan berkata, "Saya tidak mau
melihat seorang mucikari di cermin saat saya bercukur pada pagi
hari." Inilah yang disebut uji
cermin.
Etika mengharuskan Anda untuk bertanya pada diri semdiri,
jenis orang seperti apa yang ingin saya lihat dicermiN pada pagi hari? Etika
yang berlaku dalam suatu organisasi atau situasi, juga berlaku sebagai etika
perilaku di tempat lain. Tetapi etika hanya bagian dari sistem nilai, khususnya
sistem nilai organisasi. Bekerja dalam suatu organisasi yang memiliki sisyem
nilai seseorang akan menyebabkan seseorang merasa frustasi dan tidak dapat
bekerja dengan baik.
Seperti halnya manusia, organisasi memiliki nilai. Agar
dapat bekerja efektif dalam suatu organisasi, nilai seseorang harus cocok
dengan nilai organisasinya. Nilai ini tidak harus sama, tetapi harus cukup
berdekatan untuk dapat hidup bersama. Jika tidak, orang itu tidak hanya akan
merasa frustasi tetapi juga tidak akan memberikan hasil.
6. Di mana tempat saya?
Segeliintir orang sudah tahu sejak dini tempat yang tepat
bagi mereka. Ahli matematika, musikus, dan jurumasak, biasanya telah menjadi
ahli matematika, musikus, atau jurumasak sejak mereka berusia 4 atau 5 tahun.
Dokter biasanya memutuskan karier mereka pada usia belasan tahun, atau mungkin
lebih muda. Tetapi kebanyakan orang yang sangat berbakat, belum bemar-benar
mengetahui tempat mereka sampai melalui usia pertwngahan 20 tahunan. Walaupu.
sejak saat itu seharusnya mereka sudah tahu jawaban dari ketiga pertanyaan ini:
apa kekuatan saya. bagaimana saya bekerja, dan apa saja nilai-nilai saya.
Kemudian mereka dapat dan harus memutuskan di mana tempat mereka.
Karier yang sukses tidak direncanakan. Karier itu berkembang
ketika orang telah siap dalam menghadapi peluang karena merek mengetahui
kekuatannya, metode kerjanya, dan nilai-nilainya. Mengetahui tempat yang tepat
bagi seseorang dapat mengubah orang biasa (seorang pekerja keras dan kompeten,
dan bukannya mereka yang rata-rata) menjadi pekerja kinerja terkemuka.
7. Apa yang harus saya kontribusikan?
Sepanjang sejarh, banyak orang tidak pernah bertanya,
"Apa yang harus saya kontribusikan?" Mereka diperintahkan untuk
mengontribusikan sesuatu, dan tugas mereka didikte oleh pekerjaan itu sendiri
(seperti petani maupun montir) atau oleh tuan besar (seperti pembantu rumah
tangga). Sampai belum lama berselang, masih ada anggapan bahwa kebanyakan orang
adalah bawahan yang melakukan perintah.
Kemudian pada akhir 1960, tidak ada lagi seorang pun yang
maua diperintah. Laki-laki dan perempuan muda mulai bertanya, apa yang ingin
dilakukan? Dan mereka mendengar bahwa cara untuk berkontribusi adalah dengan
"mengerjakan bagianmu sendiri?" , tetapi solusi ini sama kelirunya
dengan yang pernah dilakukan oleh orang organisasim Sedikit sekali orang yang
yakin bahwa mengerjakan bagiannya sendiri akan mengarah pada kontribusi,
pemenuhan diri, kesuksesan, atau salah satu dari ketiga hal itu.
Jadi pertanyaan yang seharusnya muncul adalah, dimana dan
bagaimana saya dapat mencapai hasil yang dapat menciptakan perbedaan dalam
waktu satu swtengah tahun kedepan? Jawabannya harus dapat menyeimbangkan
beberapa hal. Pertama, hasilnya harus sulit dicapai atau sewaktu-waktu dapat
diperluas. Tetapi hasil ini juga harus berada dalam jangkauan pencapaian.
Mengharapkan hasil yang tidak dapat dicapai bukanlah ambisius, namun bodoh.
Kedua, hasil itu haruslah berarti. Hasilnya harus dapat memberikan perbedaan.
Terakhir, hasil harus dapat dilihat dan jika mungkin bersifat terukur. Dari
sini muncul suatu rangkuman tindakan, yaitu apa yang akan dilakukan, darimana
dan bagimana memulai, untuk tujuan apa, dan batasan waktu yang disusun untuk mencapai
tujuan itu. (arh/sumber kumpulan artikel Peter F. Drucker, Havard Business
Review, edisi Maret-April 1999)
Label:
SEPUTAR MANAJEMEN



















