Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan
manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau
sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Kegiatan
pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa
difahami orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam, meskipun
cakupannya dapat pula berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim
dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, atau
sekedar ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi
hutan.
Sebagian besar penduduk dunia bermata pencaharian dalam
bidang-bidang di lingkup pertanian, namun pertanian hanya menyumbang 4%
dari PDB dunia. Begitupula dengan Indonesia, sejak masa kolonial sampai
sekarang tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan,
karena sektor - sektor ini memiliki arti yang sangat penting dalam
menentukan pembentukan berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat
di berbagai wilayah Indonesia.
Jawa Barat Lumbung Padi Indonesia
Indonesia sendiri yang merupakan negara kepulauan yang terbagi dalam 33
provisi, Provinsi Jawa Barat dikenal sebagai salah satu 'lumbung padi'
nasional. Hampir 23 persen dari total luas 29,3 ribu kilometer persegi
dialokasikan untuk produksi beras. Hasil tanaman pangan Jawa Barat
meliputi beras, kentang manis, jagung, buah-buahan dan sayuran,
disamping itu juga terdapat komoditi seperti teh, kelapa, minyak sawit,
karet alam, gula, coklat dan kopi. Perternakannya menghasilkan 120.000
ekor sapi ternak, 34% dari total nasional.
Menurut data yang dirilis Biro Pusat Statistik (BPS) luas panen tahun
2013 naik 5,09 persen dibandingkan dengan luas panen tahun 2012. Tahun
2013 luas panen sepanjang Januari sampai Desember 2013 mencapai 2,016
juta hektare. Sementara produktivitas padi naik 1,39 persen dibandingkan
dengan produktivitas padi tahun 2012. BPS mencatat, produktivitas padi
tahun 2012 mencapai 58,74 kuintal per hektare.
Pada tahun 2014 ini Indonesia menargetkan produksi padi Nasional surplus
10 juta ton beras pada tahun 2014, dan Provinsi Jawa Barat ditargetkan
dapat menyumbang 30% nya yaitu 2,9 juta ton beras atau setara dengan
5,16 juta ton GKG. Dapatkah indonesia mencapai target tersebut? Dan
secara khusus, apakah Jawa barat dapat mencapai target yang ditetapkan?
Apabila kita menilik dari banyaknya lahan produktif yang berada
diwilayah Jawa Barat telah beralih fungsi seperti yang terjadi di
Kabupaten kerawang. Masih dapatkah Jawa Barat mencapai target?
Prediksi pencapaian produksi beras Provinsi Jawa Barat 2014
Produksi padi di Jawa Barat tahun 2014 diperkirakan akan mengalami
penurunan,hanya mencapai 11.149.743 ton GKG (gabah kering giling) atau
setara dengan 6.995.349 ton beras, turun sekitar 7,72% dari tahun 2013.
Penurunan produksi padi tahun 2014 hal ini disebabkan terjadinya
penurunan luas panen sebesar 6,83%.
Jika dibandingkan dengan tahun 2013 produksi padi di Jawa Barat mencapai
12.083.162 ton GKG , setara dengan 7.580.976 ton beras, atau meningkat
7,20% dibanding tahun 2012. Peningkatan produksi padi tahun 2013 karena
ada peningkatan luas panen sekitar 2,42%, periode MT (musim tanam) Mei -
Agustus dari seluas 699.648 hektar menjadi 716.610 hektar , kemudian MT
September - Desember, naik 26,79% dari seluas 367.230 hektar menjadi
465.609 hektar. Sedangkan MT sebelumnya Januari – April mengalami
penurunan 0,50% dari 851.921 hektar menjadi 847.672 hektar . Total luas
panen tahun 2013 mengalami peningkatan 11.092 hektar atau naik 5,79 %.
Dari sisi produktivitas padi, pada tahun 2013 mencapai 59,53
kuintal/hektar. Jika dibandikan dengan produkstivitas tahun 2012 ,
meningkat 1,34%. Produkstivitas padi tahun 2012 hanya 58,74
kuintal/hektar.
Luas panen MT Januari – April 2014 mengalami penurunan seluas 77.555
hektar atau turun 9,15% , dari 847 .672 hektar menjadi 770,117 hektar.
Luas panen MT Mei – Agustus dipekirakan turun seluas 22.267 hektar,
turun 3,11% . Kemudian MT September – Desember , luas panen mengalami
penurunan seluas 38.780 hektar atau turun 8,33%. Berdasar angka ramalan I
tahun 2014 , produktivitas padi sawah diperkirakan mengalami penurunan
1,33% , produktivitas padi ladang meningkat 7,77% dari tahun 2013.
Nilai Tukar Petani
Sementara itu , nilai tukar petani (NTP) Jawa Barat pada bulan Juni 2014
mengalami kenaikan, di antaranya NTP tanaman perkebunan rakyat , naik
0,56% (dari 100,99 – 101,55), NTP subsektor peternakan , naik 0,52%
(105,69 – 106,23), NTP subsektor tanaman pangan, naik 0,32% (102,26
-102,65) , sedangkan NTP subsektor perikananan mengalami penurunan 0,55%
(101,72 – 101,16) , juga NTP subsektor hortikultura ,turun 0,02 %
(108,00 -107,97) . NTP merupakan indikator tingkat kesejahteraan petani
di perdesaan. Besarnya NTP menunjukan kemampuan tukar dari komoditas
yang dihasilkan petani dengan barang dan jasa yang dikonsumsi petani,
baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun untuk produksi. Pada bulan Juni
2014 , petani menjual gabah kering panen (GKP) rata-rata Rp
4.324/kilogram, naik 5,89% dari bulan Mei (Rp 4.083/kg). Untuk harga
gabah kering giling (GKG) mengalami penurunan dari Rp 4.847,22 menjadi
Rp 4.740,38 /kg. Gabah kualitas rendah naik, dari Rp 3.209,26/kg menjadi
Rp 3.316,67/kg. Pada bulan Juni 2014, harga beras di tingkat
penggilingan Rp 8.304,94/kg , naik dari Rp 8.270,00/kg. Berdasar
kualitas beras yang dikelompokan menurut patahan (broken) beras, beras
premium turun 0,84% dari Rp 8.588,50/kg menjadi Rp 8.516,67/kg , beras
medium naik 3,91% dari Rp 8.057,35/kg menjadi Rp 8.372,41/kg, beras
kualitas rendah turun 2,76% dari Rp 7.846,15/kg menjadi Rp 7.629,41/kg.
Apa penyebab utama penurunan produktivitas?
Dalam kasus Provinsi Jawa Barat dan mungkin di daerah lain yang serupa,
permasalahan peningkatan produksi padi adalah sebagai berikut:
(1) tingginya alih fungsi lahan (mengurangi luas panen);
(2) menurunnya kesuburan tanah (penurunan produktivitas padi);
(3) buruknya infrastruktur jaringan irigasi (menurunkan produktivitas dan areal panen);
(4) meluasnya area yang berpotensi terkena gangguan bencana alam,
seperti kebanjiran, kekeringan, longsor, serangan organisme pengganggu
tanaman (OPT). Seiring dengan perubahan iklim global; dan (5) sarana dan
alat mesin pertanian pra dan pasca panen yang mahal (sulitnya
meningkatkan IP/areal panen, dan peningkatan produktivitas dan rendemen
gabah-beras).
(6). Kurangnya regenerasi petani, dimana sektor pertanian ini masih
kurang diminati oleh anak muda. Dikarenakan usaha pada sektor pertanian
khususnya tanaman pangan ini seakan tidak menjanjikan masa depan yang
cerah. Ini dapat dihat oleh anak-anak muda Indonesia, dimana tidak
adanya kepastian harga jual dan masih tingginya biaya produksi yang
tidak sebanding dengan nilai jual hasil produksi.
(7) Tekanan yang bertubi dari produk pertanian pangan impor yang
memiliki harga jual lebih murah dari produk pertanian pangan kita.
Sehingga melemahkan daya saing harga dari produk pertanian sektor pangan
kita. Dengan ongkos produksi yang tinggi, tentunya hasil produksi
petani tidak akan mampu untuk bersaing.
(8) Dalam hal permodalan, petani kita mengalami persoalan yang cukup
signifikan dimana mereka sulit untuk memdapatkan pinjaman atau kredit
lunak dari dunia perbankan. Sehinga kebanyakan petani kita mengambil
jalan pintas dengan meminjam kepada renternir yang tentunya memiliki
sistem bunga yang tinggi. Namun, disisi lain meminjam ke tengkulak atau
rentenir, mudah dan tidak berbelit yang membuat petani kerepotan.
Ini adalah sebuah pekerjaan rumah yang panjang bagi pemangku kepentingan
di Jawa Barat namun juga secara umum untuk pemerintahan yang baru.
Bagiamana agar dapat menggenjot produktivitas hasil produksi beras namun
juga bagaimana cara untuk dapat mensejahterakan petani dan tentunya
menarik minat anak muda untuk terjun berusaha di sektor pertanian.
Tentunya hal ini harus ditangani secara serius dan fokus, apalagi di
penghujung tahun 2015 kita akan menghadapi pasar bebas di Asean. Dengan
akan dibentuknya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) atau Asean Economy
Comunity (AEC). Sektor produksi pertanian akan menjadi sasaran empuk
bagi produk-produk impor dari negara-negara Asean, bilamana pemerintah
tidak secepatnya membenahi perihal sektor pertanian. Tentunya dengan
visi dan misi yang jelas dan terarah, tidak ada yang mustahil produk
hasil pertanian pangan lokal menjadi tuan di negerinya sendiri.
(Arh/ sumber: www.puslittan.bogor.net www.bisnisbandung.co.id www.TRIBUNews.com www.bps.go.id)
Home »
PRODUK AGRO
» PROVINSI JAWA BARAT LUMBUNG PADI INDONESIA?
PROVINSI JAWA BARAT LUMBUNG PADI INDONESIA?
Written By Unknown on 23/09/14 | 9/23/2014
Related Articles
Label:
PRODUK AGRO
+ komentar + 1 komentar
Terimakasih atas ilmunya ... sangat bermanfaat
Posting Komentar